Aja Were

Kala Tattwa

Kala Tattwa adalah lontar yang berisikan mitologi caru dan menceritakan lahirnya Bhatara Kala yang menciptakan segala jenis bhuta kala dengan segala penyakit serta godaan-godaan yang ditimbulkan, sehingga di alam semesta ini terjadilah ketidak harmonisan, yang mengganggu ketentraman hidup manusia.

Tattwa Kala dalam Hindu Bali, disebutkan lontar ini juga berisikan penggunaan hewan dalam caru (tawur) dan kisah lahirnya Sang Hyang "Dewa / Bhatara Kala" yang berwujud raksasa besar, menyeramkan dan luar biasa yang dalam terjemahan tattwa kala ini diceritakan,


Tatkala Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Wisnu melihat air mani Bhatara / Dewa Siwa yang jatuh ke laut, dan laut tampak goncang, lalu beliau berdua beryoga. Maka menyatulah air mani itu menjadi wujud raksasa besar, menyeramkan dan luar biasa. Tidak ada yang menyampai rupanya. Saat itu larilah Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu ke sorga.

Tidak diceritakan larinya mereka. Diceritakan raksasa itu berkeinginan mengetahui (siapa) ayah dan ibunya. Dipandangnya laut, sepi. Dipandangnya ke Timur juga sepi. Ke selatan sepi. Ke Barat sepi. Ke utara sepi. Ke bawah sepi. Ke atas juga sepi.

Maka berteriaklah raksasa itu bagaikan ruangan singa, sehingga bumi menjadi bergetar, seluruh sorga bergoyang. Lalu keluarlah Dewata Nawasangha seluruhnya, dilihatnya raksasa besar dengan rupa yang luar biasa, berteriak-teriak bagaikan raungan singa.

Kemudian bangkitlah kemarahan para Dewata Nawa Sangha, lalu menyerangnya. Dikeroyoknya raksasa itu oleh para Dewata seluruhnya. Tidak cidera (sedikitpun) raksasa itu, lalu ia berkata ”Ah bahagia rasanya ketemu, janganlah engkau menyerangku, aku minta kebenaran”.

Dewata berkata: ”Ah ah kami, jangan banyak bicara, karena engkau raksasa amat jahat, tak bakalan tidak engkau mati”.

Lalu mereka berperang. Akhirnya kewalahan para sewa itu dan dikejarnya. Para dewata berhamburan lari menuju ke hadapan kaki Bhatara Siwa.

Selanjutnya mereka bersama-sama melaporkan: ”Ya junjungan, ini ada musuh paduka datang menuju ke hadapan paduka, berwujud raksasa mengobrak-abrik kahyangan. Tak tercedrai oleh putra paduka seluruhnya, apabila paduka tidak mau terjun ke medan perang, niscata seluruh kahyangan akan hancur”.


Sabda Bhatara Siwa: ”Ah uh uh ah mah, janganlah engkau ragu-ragu, aku hadapi sekarang”. Lalu beliau keluar dan ditemuinya raksasa itu. ”Aum engkau raksasa, sangat besar dosamu. Matilah engkau olehku”.

Kata si raksasa: ”Nah keluarlah engkau sekarang”.

Selanjutnya terjadilah perang tanding yang sangat dasyat, saling robek, saling tikam, kemudian Bhatara Siwa lari, sebab raksasa itu tidak dapat dilukai dengan senjata bajra. Karena itu Bhatara / Dewa Siwa dikejar, Bhatara Siwa lari terbirit-birit, gemetar, lalu mengipaskan badanya sesampainya di tempat kejauhan. Dari sana Bhatara kembali seraya berkata: ”Aum kamu raksasa, apa salahnya Sang Catur Loka Phala? Dan apa yang menyebabkan engkau menyerang seluruh penghuni kahyangan”.

raksasa itu berkata: ”Tidak ada keinginan aku untuk berperang, aku hanya ingin bertanya padanya. Betul paduka karena aku tidak mengetahui siapa ayah ibuku”.

”Nah kalau demikian potonglah terlebih dahulu taringmu yang di kanan, baru ketemu ayah ibumu. Aku tidak berbohong padamu, sekarang ada anugrahku kepadamu, semoga engkau memperoleh keberhasilan (kasidian), engkau berwujudkan semua yang bernafas, terserahlah kamu sekarang. Bila engkau ingin membunhnya, boleh bila kau ingin menghidupkan juga boleh, sebab engkau anakku, ini ibumu Bhatarì Uma Dewi”. Demikian sabda Bhatara / Dewa Siwa kepada Hyang Kala dalam lontar Tattwa Kala tersebut.
***