Aja Were

Cemara

Cemara adalah penebar aura kesucian.
  • Dimana daun cemara biasanya digunakan sebagai pelengkap dalam sebuah penjor yang merupakan lambang pertiwi bhuwana agung, alam semesta kita ini.
  • Pohon hutan Cemara Landung di daerah Trunyan sebagai saksi pertemuan antara Ratu Gede Pancering Jagat dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit.
Diceritakan dalam sejarah Pura Cemara Geseng jika ditelusuri menurut nama latin dari tumbuhan cemara maka memiliki nama latin "Casuarina Junghuniana Miq" mengacu kepada pohon cemara atau sejenis pinus yang tumbuh di tempat ini. 
Sedangkan kata "geseng" dapat berarti melenyapkan, mengembalikan, ataupun dapat pula berarti menetralisir.
Konon menurut cerita yg diyakini secara turun-temurun disinilah tempat (nunas lugra) Ida Bhatara Manik Angkeran "digeseng" oleh Ayahanda beliau yang bernama (nunas lugra) Ida Bhatara Mpu Sidhi Mantra. 

Hal ini sangat terkait dengan cerita Manik Angkeran yang mana Manik Angkeran tidak mau berhenti dari kebiasaan buruknya yakni berjudi dan menghambur-hamburkan harta milik ayahandanya. 
Manik Angkeran sudah diperintahkan oleh ayahandanya untuk bertapa di Gunung Agung (di sebuah gua di Pura Besakih) tujuannya adalah untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan aura negatif pada diri Manik Angkeran. 
Singkat cerita setelah melakukan tapa/samadhi pun tingkah laku dan kebiasan berjudi masih tetap melekat pada diri Manik Angkeran bahkan dikisahkan semakin menjadi-jadi. 

Bertolak dari penggalan cerita di atas maka masyarakat di sekitar Pura Puncak Cemara Geseng secara turun-temurun dan penuh keyakinan meyakini bahwa di pura ini adalah tempat "digesengnya" Manik Angkeran oleh Ayahandanya yakni Mpu Sidhi Mantra, akibat prilaku dan kebiasaan buruk Manik Angkeran yang tidak bisa lenyap dari dalam dirinya menjadikan ayahandanya marah dan mengutuk Manik Angkeran sehingga "digeseng" dikembalikan kepada Hyang Maha Wisesa.
***