Sabdo Palon

SERAT SABDA PALON | dalam kutipan serat tersebut, dijelaskan bahwa Sabdo Palon Naya Genggong merupakan 'penuntun gaib yang mewujud'.
Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi raja-raja jawa jaman Siwa Buddha dan aliran Kejawen dalam hal spiritualistis.
Beliau berdua pergi meninggalkan tanah jawa semenjak keruntuhan Majapahit pada tahun 1400 saka, atau 1478 masehi. terkenal dengan surya sangkala (kata sandhi penanda tahun kejadian) yang sangat populer di jawa, yaitu sirna ilang kerthaning bhumi ( sirna : 0, ilang : 0, kertha : 4, bhumi : 1 = 1400 saka). 

Kalimat kerthaning bhumi, diambil dari nama asli Prabhu Brawijaya Pamungkas (pamungkas=terakhir), yaitu Raden Kerthabhumi. 

Janji kedatangan beliau berdua diucapkan di blambangan. ketika Kerajaan Majapahit hancur diserang oleh pasukan demak bintara. Prabhu Brawijaya meloloskan diri ke arah timur, maksud semula hendak menyeberang ke pulau bali, namun masih bertahan sementara di blambangan (Banyuwangi sekarang).
***

Ramalan Sabdo Palon (jawa) | Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya, bedah telisik spiritual wasiat nenek moyang.........

Fragmen Cerita Novel Sabdo Palon | Lihatlah aku di sini. Dengan perwujudanku yang bersahaja. Dengan perutku yang besar. Dengan kuncungku yang terangkat ke atas. Dengan tanganku yang senantiasa menunjuk. Aku melihat mendung hitam mulai menangkupi Nusantara. 

Aku mencium bau anyir kematian di sana. Dan aku mendengar jerit penderitaan. Bumi ini akan segera memerah karena darah yang tumpah. Pasukan dari seberang akan datang menciptakan kekelaman. Pasukan yang sejatinya berasal dari awan putih, namun entah mengapa berubah menjadi mega hitam kematian.

Semua itu tak lepas dari karma penghuni Nusantara. Yang telah lalai disebabkan kemegahan para leluhurnya. Kesemena-menaan, keangkuhan, kesombongan telah meraja. Pasukan dari seberang itu yang akan membalaskan karma dengan setimpal. 

Karena itu, aku akan mewujud di bumi Nusantara sebagai sosok manusia biasa. Agar manakala perubahan itu terjadi, tidak banyak darah tertumpah menggenangi persada. Namun sesudahnya, aku akan meninggalkan Nusantara dalam jangka lima ratus tahun.

Manakala alam telah menggeliat karena sudah tak lagi mampu menampung dekap mendung kematian, saat itulah pertanda bahwa aku akan kembali ke Nusantara. Kini aku telah bangun dari tidur panjangku. Dan aku telah siap untuk mengejawantah! 

***