Catur Warna

Catur Warna adalah empat penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi yang tidak bersifat statis, tetapi dinamis yang artinya sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel sistem kasta di Bali
  • warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya 
  • sehingga penggolongan ini tidak diturunkan, artinya kalau sang Ayah Brahmana tidak otomatis anaknya menjadi Brahmana.
Keempat penggolongan catur warna ini disebutkan terdiri dari :
  • Brahmana merupakan orang-orang yang menekuni kehidupan spiritual dan ketuhanan, para cendikiawan serta intelektual yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual. Atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai rohaniawan.
  • Ksatria merupakan orang orang yang bekerja / bergelut di bidang pertahanan dan keamanan/pemerintahan yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya.  Atau seseorang yang memilih fungsi sosial menjalankan kerajaan: raja, patih, dan staf - stafnya. Jika dipakai ukuran masa kini, mereka itu bertindak sebagai kepala pemerintahan (guru wisesa), para pegawai negeri, polisi, tentara dan sebagainya.
  • Waisya merupakan orang yang bergerak dibidang ekonomi, yang bertugas untuk mengatur perekonomian atau seseorang yang memilih fungsi sosial menggerakkan perekonomian. Dalam hal ini menjadi pengusaha, pedagang, investor dan usahawan (Profesionalis) yang dimiliki Bisnis / usaha sendiri sehingga mampu mandiri dan mungkin memerlukan karyawan untuk membantunya dalam mengembangkan usaha / bisnisnya.
  • Sudra merupakan orang yang bekerja mengandalkan tenaga/jasmani, yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain atau seseorang yang memilih fungsi sosial sebagai pelayan, bekerja dengan mengandalkan tenaga. seperti: karyawan, para pegawai swasta dan semua orang yang bekerja kepada Waisya untuk menyambung hidupnya termasuk semua orang yang belum termasuk ke Tri Warna diatas.
Keempat penggolongan dari warna masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi yang ada di Bali tersebut sebagaimana disebutkan hanya sebagai pengenal bahwa garis leluhurnya mereka dahulu berasal dari keluarga tertentu.

Dalam dinamika perkembangan jaman ini juga disebutkan,
  • Sebagai usaha untuk menghilangkan perbedaan warna dengan cara nyineb wangsa, tidak berarti meninggalkan ikatan kepada Bhatara Kawitan sebagai garis ikatan para leluhur yang telah mendahului kita. 
  • Dalam realitas kehidupan dengan empat pembagian catur warna dalam babad bali dijelaskan bahwa kasta berdasarkan atas 
    • bakat (guna) dan 
    • ketrampilan (karma) seseorang, serta 
    • kualitas kerja yang dimiliki sebagai akibat dari
      • semakin bertambahnya kecerdasan dengan pengetahuan dan media pendidikan, 
      • pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya yang ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan.
***