Aja Were

Dewi Saci

Dewi Saci (atau Sachi) adalah sakti dari Dewa Indra yang konon terkenal dengan sosok feminisme nya yang mencerminkan bahwa Beliau berpendidikan dan cerdas; 
  • Mampu membuat keputusan
  • Mampu menentukan sikap; 
  • Mampu menjaga harga diri; 
  • dan mampu menjaga martabatnya sebagai perempuan; 
  • Satya
    • Dan mampu menjadi dirinya sendiri (personhood).
Sebagaimana dikutip dari sinopsis Analisa Geguritan Saci diceritakan :

Tersebutlah pada zaman dahulu, terjadi kerusuhan yang sangat dahsyat di swarga loka dimana Bhatara Indria berperang melawan sahabatnya sendiri yang berwujud 3 raksasa hebat.
Namun ketiga raksasa itu disebutkan adharma sifatnya (perilakunya/ perbuatannya tidak baik), seperti banyak bidadari diperkosa, banyak manusia dimakan, pertapaan dirusak dan sorga juga dirusak. 
Itu sebabnya, Betara Indra membunuh Si Wreta, Iranyakasipu dan Raksasa berkepala tiga itu.

Setelah kejadian tersebut, Betara Indra menjadi bingung dan lama menghilang. 
Para Dewata pun mencari ke mana-mana tetapi tidak ditemukan. 
Oleh karena itu, 
diadakanlah rapat untuk mencari pengganti raja. 

Akhirnya, dipilihlah Nahusa dan dinobatkan menjadi raja oleh Bhagawan Wrehaspati. Selama pemerintahannya, banyak Bidadari cantik diambil dijadikan istri, semua keinginannya harus dipenuhi. 

Pada suatu saat, Nahusa melihat Dewi Saci yang sangat cantik, istri Betara Indra. Ia ingin memilikinya, ia menggoda, merayu, bahkan ingin memperkosa, tetapi Dewi Saci menolak dan selamat. Dewi Saci melaporkan perbuatan Nahusa dan meminta pertolongan kepada Bhagawan Wrehaspati. 
Dengan demikian, 
Bhagawan Wrehaspati mencoba mencari Hyang Indra lewat semedi, maka diketahuilah bahwa Hyang Indra berada di dasar laut dan sembunyi pada bunga tunjung. 

Dengan bantuan Hyang Uma Sruti, Bhagawan Wrehaspati dan Dewi Saci berangkat ke laut. Berkat kesaktian Bhagawan Wrehaspati, maka laut terbuka dan kelihatan jalan menuju dasar laut. Setelah bertemu, Dewi Saci menyampaikan semua masalah yang terjadi dan meminta keputusan Betara Indra. 

Betara Indra meminta Dewi Saci melaksanakan patibrata (setia) kepada suami, yakni menerima permintaan Nahusa, dengan satu syarat. 
Dewi Saci dan Bhagawan Wrehaspati memahami hal itu sebagai siasat Betara Indra. 
Mereka pun kembali ke Sorga. Begitu Dewi Saci bertemu dengan Nahusa, ia menyatakan menerima pinangan Nahusa. 

Semenjak itu Nahusa semakin lupa diri karena asmara. Ia tidak sempat berpikir bahaya, sebab Dewi Saci sangat pandai bermanis-manis. Dewi Saci mau menikah dengan Nahusa, dengan syarat saat pernikahannya harus disunggi (dijunjung) oleh para rsi

Syarat itu diterima Nahusa tanpa pertimbangan lagi. Selanjutnya, para rsi dikumpulkan dan diperintahkan memenuhi permintaan Dewi Saci, namun para rsi menolak perintah Nahusa. 
Karena itu, 
Nahusa mengamuk dan menyiksa para rsi. Para rsi pun balik mengamuk serta mengutuk Nahusa turun ke Bumi menjadi ular yang kurus kering dan penuh penderitaan selama 1000 tahun. 
Begitulah dikisahkan Dewi Saci, sebagai sakti dari Dewa Indra yang perilakunya patut ditiru, tidak berpikir bahaya dalam mencari suaminya, tidak lupa pada sesana (tata krama) yang diperkuat dengan sastra (ajaran agama), yang dapat digunakan untuk membedakan benar-salah. 

Peran gender sangat jelas diaktualisasikan dalam geguritan saci ini. 
Peran itu tercermin dalam tindakan yang dilakukan Dewi Saci untuk mengembalikan kekuasaan suaminya. 
Dewi Saci sangat mampu melaksanakan tugas berat, seperti menolak godaaan Nahusa, meminta tolong kepada Bhagawan Wrehaspati dan kepada Dewi Umasruti, pergi ke dasar samudera menemui suaminya, dan melakukan siasat dalam menghadapi Nahusa seorang raja yang kejam. 
Maksudnya, Dewi Saci kuat imannya, kuat fisik dan pikiran sehingga tidak tergoda oleh kata-kata rayuan Nahusa.

Keberhasilan Dewi Saci sebagai cerminan bahwa perempuan hendaknya mempunyai harga diri dan mampu menunjukan dirinya sebagai manusi yang terhormat yang didasari rasa kebersamaan, saling pengertian tenggang rasa dalam melaksanakan kewajiban berkeluarga sehingga ikatan suami istri menjadi kuat.
Sehingga disebutkan sampai saat ini Dewi Saci menjadi panutan sebagai tokoh pribadi (perempuan) seutuhnya (personhod) yang sesuai dengan janji feminis yakni sebagai keutuhan manusia.
***