Tahukah Anda ?

Pengurip Tamba

Pengurip Tamba adalah mantra yang diucapkan sebelum diberikan ke pasien sebagai penguwat obat.
Urip artinya menjiwai atau memberi kekuatan.
Dalam tata cara penyiapan obat dalam usadha Bali disebutkan dapat diucapkan sebagai berikut:
“Om rira mas cahya urip, canekangsarwa bangun teke urip, teka urip, teka urip, urip, urip, urip, sidha urip, Ong awe-awe nama swaha,
Om sanghyang kune ngeles akene urip Mantran-ku mati bangun pada urip, teka urip, teke urip, teke urip
Om bhatara guru tumurun saking swarga suralaya, angurip sakeluwiring gawenku, asing gawenku pada urip, teke urip, teke urip, teke urip.
Om Sang Kundameles angurip Mantranku, sing mati bangun pada urip, teka urip, teka urip, teka urip”.
Om Am Brahma kedep, Om Um wisnu mandi, Om Mam Iswarasandi Om
Masih banyak mantra yang lain sempat diucapkan oleh Jro Balian Dalang Lalar.

Penjelasan tersebut di atas sesuai yang disebutkan oleh Nala (1994:127) bila memberikan obat pada sang sakit haruslah hati-hati, jangan gegabah.
Lihat mata si sakit karena disitu terletak bayangan roh yang hitam atau putih, panas, dingin atau sebaha (bagaikan bara api yang disram air). 
Bila layu tidak bercahaya terlihat lemah seperti mata mayat maka jangan diberi obat, bila kasihan kepada si sakit, berikan obat tetapi tanpa diisi mantra, agar tidak terkena kutuk oleh Sang hyang Mantra. 
Mantra sebagai sarana mapinunas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi (Yuliana. 2013:vii). 
Mantra adalah sejumlah aksara tertentu atau pola gabungan kata-kata sanskerta yang diambil dalam kitab weda sebagai simbul bunyi, yang merupakan sarana kekuatan gaib dengan vibrasi yang mampu mempengaruhi ketenangan atau kedamaian agar pasien lebih cepat sembuh. 

Dalam pengobatan modern mantra hampir sama dengan audioterapi yaitu pengobatan dengan bunyi-bunyian (music healing), efeknya akan merangsang tubuh lebih efektif untuk memproduksi zat kekebalan tubuh (autoimun), karena ketenangan dan kedamaian pasien dan vibrasi lingkungan sekitar maka autoimun pasien akan meningkat dengan sendirinya (Nala. 2006:161-163).
***