Mang

Kata „Mang‟ bermakna “Weruh ring titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran Agama.

Dalam salah satu dokumen sasana atau etika dan tugas kepemangkuan dalam fenomena kehidupan beragama Hindu di Bali disebutkan :
Mengingat „Mang‟ sebagai suku kata aksara suci Dewa Iswara atau Siwa sendiri sebagai guru niskala bagi warga desa, beliau juga dijuluki sebagai Sanghyang Ramadesa. 
„Ku‟ bermakna “Kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi.
Kemudian dari kata Widhi, diperoleh suku kata „di‟ yang artinya “dina”(hari), dari kata „dina‟ diperoleh suku kata „na‟ artinya “amertha” (sumber kehidupan);
dari kata amertha diperoleh suku kata „ta‟ artinya “toya” (air),
dari kata toya diperoleh suku kata „ya‟ artinya “jati jatining kaweruhan ring kahananing bhuana agung muang bhuana alit (hakikat pengetahuan mengenai vibrasi kosmik alam semesta).

Dengan demikian kita sebagai para generasi muda hendaknya disebutkan betul-betul memahami ajaran agama kita sendiri.
***