Aja Were

Raja Janaka

Raja Janaka adalah seorang penguasa dari kerajaan Wideha yang pada zaman dahulu dikenal telah berhasil melatih pengendalian sad ripu dan menguasai Raja Marga Yoga sebagai bagian dari Catur Marga.
Dalam Epos Ramayana, Beliau disebutkan merupakan ayah dari Dewi Sita.
Diceritakan, tersebutlah dalam suatu pesraman di sebuah hutan rimba ada seorang Rsi yang bernama Rsi Suka yang memberikan dharma wecana kepada murid-muridnya yaitu yoga, semadi;
Namun diantara murid-muridnya ada seorang raja bernama raja Jenaka. 
Raja Jenaka disamping mempunyai kerajaan yang sangat besar dan kaya juga berkeinginan belajar spiritual (Yoga, semadi) kepada Rsi Suka yang sangat terkenal ilmu spiritualnya. 
Banyak ujian-ujian yang diberikan kepada para siswanya agar dapat mencapai moksa dalam kehidupan ini dengan meninggalkan keduniawian dengan melepaskan semua keterikatan-keterikatan sehingga Atman menyatu dengan Brahman
Pada suatu hari Rsi Suka agak terlambat memberikan dharma wecana sehubungan Raja Jenaka ada keperluan kerajaan yang sangat mendesak yang tidak boleh diwakili. 
Rsi Suka dengan sengaja menunggu Raja Jenaka, ingin menguji kesabaran para muridnya apakah dapat mengekang Sad Ripu sebagai dasar pelajaran Yoga.
Dari pengamatan Rsi Suka banyak para muridnya gelisah dan gusar dan kadang-kadang timbul marah tidak sabar menunggu sampai ada yang protes bahwa pelajaran dimulai saja, 
mengapa kita di beda-bedakan orang biasa dengan raja ?
Setelah raja datang dharma wecana baru dimulai dan Rsi Suka memberikan wejangan, kita harus dapat mengendalikan sad ripu sehingga kita dapat ketenangan bathin. 
Setelah dharma wecana selesai maka pelajaran dilanjutkan dengan yoga, semadi, dan pelajaran ini harus dilakukan dengan konsentrasi pikiran secara penuh.
Dengan suasana hening sepi hanya suara jangkrik yang kedengaran, para muridnya sedang asyik melakukan yoga semadi;
Tiba-tiba Rsi dengan berteriak bahwa sedang ada kebakaran di kota kerajaan, murid-muridnya pada bubar berlari lari pergi ke kota kerajaan ingin menyelamatkan harta dan rumahnya yang kebakaran. 
Tetapi raja Jenaka tidak bergeming sedikitpun, dia telah masuk dalam keadaan Semadi, beliau berbahagia dalam Atman.
Rsi mengamati wajah raja dengan perasaan sangat gembira. Setelah beberapa murid-murid yang lari kembali bahwa di kota tidak ada kebakaran dan Rsi pun memberikan penjelasan arti dari peristiwa tersebut. 
  • Penundaan mulainya dharma wecana adalah untuk menghormati raja, karena beliau telah menghapuskan keakuannnya kebanggaannya dan mempunyai kerendahan hati dan melatih mengendalikan Sad Ripu dan berhasil dengan baik dan ini perlu dicontoh oleh semua muridnya. 
  • Dan peristiwa kebakaran di kota kerajaan sebenarnya tidak pernah terjadi, peristiwa kebakaran adalah rekayasa Rsi dan ini merupakan ujian dari Rsi Suka. 
Sehingga kalau mau berhasil sebagai seorang spiritual (Yogi) harus berani melepaskan semua keduniawian yaitu keterikatan-keterikatan, tanpa ada kemauan untuk menghilangkan keterikatan-keterikatan ini tidak mungkin tercapai tujuannya yaitu sebagai seorang Yogi.

Semua latihan-latihan ini membutuhkan ketekunan, tulus iklas, kesujudan iman dan tanpa pamrih.

Demikian dikisahkan sekilas perjalanan Raja Janaka dalam catatan perempuan Bali dalam Panca Sradha "Moksa" untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu :
Bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk bersatunya Atman dengan Brahman. 
Untuk itu, disebutkan bahwa setiap orang harus selalu berbuat baik sesuai dengan ajaran Agamanya.
***