Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Sor Singgih Basa

Sor Singgih Basa adalah tingkat tutur dalam bahasa Bali yang bertujuan untuk dapat saling menghormati.
Seperti halnya ketika seorang anak berbicara sopan terhadap orang tua; 
Atau penyebutan kata ”Ida Nak Lingsir” sebagai bahasa penghormatan yang mencerminkan ”kedekatan” antara umat dengan brahmana gotra.
Dalam tingkatan sor singgih pemakaian bahasa, yaitu :
  • Bahasa Alus (Hormat), 
  • Lumrah (Madya) dan
  • Bahasa Bali Kasar seperti wak purusya yang bisa mendatangkan penderitaan.
Dalam sejarah dan perkembangan bahasa Bali disebutkan bahwa keberadaan bahasa Bali memiliki variasi yang cukup rumit karena adanya sor-singgih yang ditentukan oleh pembicara, lawan bicara, dan hal-hal yang dibicarakan.
Secara umum, variasi bahasa Bali dapat dibedakan atas variasi temporal, regional, dan sosial. Dimensi temporal bahasa Bali memberikan indikasi kesejarahan dan perkembangan bahasanya meski dalam arti yang sangat terbatas. 
Secara temporal bahasa Bali dibedakan atas bahasa Bali Kuno yang sering disebut deengan bahasa Bali Mula atau Bali Aga, bahasa Bali Tengahan atau Kawi Bali, dan bahasa Bali Kepara yang sering disebut Bali Baru atau bahasa Bali Modern.
Secara regional, bahasa Bali dibedakan atas dua dialek, yaitu dialek Bali Aga (dialek pegunungan) dan dialek Bali Dataran (dialek umum, lumrah) yang masing-masing memiliki ciri subdialek tersendiri.

Berdasarkan dimensi sosial, bahasa Bali mengenai adanya sistem sor-singgih atau tingkat tutur bahasa Bali yang erat kaitannya dengan sejarah perkembangan masyarakat Bali yang mengenal sistem wangsa (warna).
Dan dari sisi kesejarahan bahasa Bali yang telah disinggung dalam dimensi temporal di atas, bahasa Bali Kuno juga merupakan bahasa Bali yang tertua di Bali yang banyak ditemukan pemakaiannya dalam Prasasti 804 Śaka (882 Masehi) sampai dengan pemerintahan Raja Anak Wungsu tahun 904 Śaka (1072 Masehi).
Dan berdasarkan norma sebagai pedoman dalam hidup bermasyarakat sehingga terciptalah kerukunan seperti halnya filosofi menyama braya yang bersumber dari sistem nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Bali.
***