Aja Were

Believe System

Believe System adalah sistem kepercayaan yang merupakan inti dari segala sesuatu yang kita yakini sebagai realitas, kebenaran, nilai hidup, dan segala sesuatu yang kita tahu mengenai dunia ini.
Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari transformational thinking untuk dapat berpikir, berprilaku & mempercayai sesuatu secara benar dan transformal sebagaimana dijelaskan pendidikan acara agama Hindu dalam tradisi pada zaman modern;
Perilaku kita sejatinya dikatakan akan dapat mempengaruhi pengalaman kita, dan juga sebaliknya.
Pengalaman akan mempengaruhi sistem berpikir.
Sistem berpikir (thinking system) menjadi filter dua arah yang menterjemahkan berbagai kejadian dan pengalaman yang kita alami menjadi suatu kepercayaan. 
Dan,
Sebuah kepercayaan juga dikatakan akan dapat mempengaruhi tindakan kita, sehingga menciptakan realitas bagi diri kita. 
Dengan mempelajari keterampilan berpikir yang baru, kita dapat mengubah sistem kepercayaan dan sistem perilaku kita. 
Sehingga sistem perilaku (behavior system), sistem berpikir (thinking system) dan sistem kepercayaan (believe system) dikatakan memiliki hubungan yang sangat erat;
Baik itu berkorelasi dengan hubungan alami antara manusia dan masyarakat,  transformasi dunia kerja, sekolah, dan pemerintahan.
Oleh karena itu dikatakan bahwa, diperlukan latihan dan bimbingan secara berkelanjutan untuk melewati fase transisi dari cara berpikir tradisional (traditional thinking) menuju ke cara berpikir transformatif (transformational thinking) atau biasanya disebut dengn "11P";
“Peningkatan parameter persepsi (perception) menuntun ke arah pemahaman potensi (potential) penuh diri sendiri dan kolektif. 
Ketika potensi digabungkan dengan prinsip (principle) dan gairah (passion), kita akan dapat menciptakan definisi keyakinan kita dan dapat mencurahkan diri untuk memeliharanya.
Namun ketika kita memahami politik (politics) hubungan dan orang (people) lain diikutsertakan serta terlibat dalam masalah yang memengaruhi mereka, kita memiliki sasaran sama yang akan menentukan tujuan (purpose) dan semua orang berpegang teguh padanya. 
Dengan demikian, kita dapat merumuskan rencana (plan) yang akan membawa kita pada penciptaan proses (process) yang membantu mencapai sasaran kita.
Unsur akhirnya adalah ketabahan (perseverance) dan keluwesan (pliability). 
Keduanya memberikan keluwesan dan kekuatan yang diperlukan untuk menjamin pertumbuhan serta perbaikan yang berkesinambungan”.
Jadi, dikatakan bahwa cara kerja transformational thinking adalah bagaimana mengembangkan parameter persepsi agar memahami sepenuhnya potensi diri, baik sebagai makhluk individu maupun sosial. 
Potensi yang dipadukan dengan prinsip dan semangat untuk membangun kepercayaan.
Dari sini kemudian, dapat disusun sebuah rencana yang membawa pada sebuah proses kerja. Agar proses ini menghasilkan pertumbuhan dan perbaikan yang berkelanjutan, maka diperlukan keuletan dan keluwesan dalam menjaga terpeliharanya proses sampai tujuan bersama benar-benar terwujud. 
Pendekatan transformational thinking dapat dikembangkan terutama dalam fase transisi perubahan dari masyarakat tradisional ke modern.
Tujuannya agar umat Hindu dapat memengaruhi perubahan yang terjadi, bukan malah sebaliknya terpengaruh dalam perubahan tersebut dengan cara mengikuti konsep “11 P” yakni : 
  1. Mengembangkan cakrawala persepsi; 
  2. Mengenali potensi diri; 
  3. Memadukan potensi dengan prinsip
  4. Semangat ("Gairah";kama)
  5. Mengelola politik interaksi; 
  6. Memengaruhi orang lain agar merasa memiliki masalah yang sama; 
  7. Menetapkan sasaran dan tujuan bersama; 
  8. Merumuskan rencana; 
  9. Melaksanakan proses; 
  10. Keuletan dan ketabahan; serta 
  11. Keluwesan. 
Kesebelas aspek ini dapat dikembangkan dalam pembelajaran acara agama Hindu seperti halnya Tri Kaya Parisudha dalam rangka membangun sistem perilaku, sistem berpikir, dan sistem kepercayaan (Believe System) tersebut.
***