Kalpika

Kalpika atau juga disebut Karawista adalah lambang dari pancaran kekuatan Tri Lingga dan Tri Murti dalam mengendalikan pikiran yang biasanya digunakan pada banten anggen rikala mapetik dan pada saat mewinten khususnya pawintenan saraswati sehingga pikiran ini siap untuk menerima ilmu pengetahuan.

Penggunaan Kalpika yang umumnya diikatkan di kepala dan terbuat dari daun kembang pucuk dalam bahasa Bali sebagaimana disebutkan dalam artikel budaya-lokal12, Kalpika yang berbentuk segitiga yang merupakan, 
  • Simbol Trilingga, alam semesta ciptaan Sang Hyang Widhi seperti halnya :
    • bulan, 
    • bintang, dan 
    • matahari. 
    • dll

  • Kemudian ada juga unsur-unsur Tri Murti dan juga bunga berwarna kuning sebagai simbol Mahadewa dan adapun sarana bunga sebagai simbol Tri Murti tersebut sebagaimana dijelaskan yaitu sebagai berikut :
    • Bunga berwarna putih sebagai simbol Siwa
    • Bunga berwarna merah simbol Brahma
    • Bungan berwarna biru atau hijau sebagai simbol Wisnu.
Karawista terbuat dari 3 (tiga) helai ilalang/ ambengan disebutkan dalam salah satu postingan Hindu di fb dikatakan memiliki sarat makna. 
  • Satu ujungnya diikat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah lingkaran kecil dengan ujung pucuknya tegak ke atas. 
  • Pada simpulnya diselipkan helai bunga warna merah dan putih.
Saat dikenakan, simpul bunga tepat di tengah dahi. Sedangkan tiga helainya ditarik kebelakang. 2 helai di sisi kanan dan satu helai di sisi kiri untuk diikatkan belakang kepala. 
Simpul karawista yang membentuk lingkaran adalah perlambang windu dan ujungnya yang menyatu dalam satu titik adalah nada sehingga menjadi perlambang aksara suci Om. Warna hijau ilalang, bunga merah dan putih melambangkan Tri Murthi : Brahma, Wisnu, Siwa. Sungguh perlambang suci nan indah dan agung.
Karawista biasanya juga dikenakan saat orang yang mejaya-jaya berbagai upacara pembersihan diri seperti mewinten, tiga bulanan, mebayuh oton, upacara pernikahan, dan lain-lain. Mengikat karawista di kepala merupakan simbul pengikatan diri agar pikiran terpusat pada yang dipuja yaitu Hyang Widhi.
Bhagawad Gita IX, 34 menulis "Pusatkan pikiranmu hanya pada Ku biarlah kesadaranmu ada pada Ku, setelah itu engkau akan hidup di dalam Ku dan ini tak perlu disangsikan lagi"
Tiap kali kita melaksanakan upacara penyucian diri karawista diikatkan di kepala, kita diingatkan akan makna yang terkandung dalam sloka Gita, untuk selalu memusatkan pikiran pada Hyang Widhi. 
Selain mempunyai kekuatan mistis setelah mendapatkan doa dan puja mantra Sulinggih, karawista memberi makna mendalam nan indah, agar kita selalu ingat menyatukan pikiran yang beraneka dan berubah-ubah dengan cepat untuk menjadi satu saat memujaNya.
Tanpa disadari karawista telah membahasakan sloka gita tersebut dalam estitika bentuk dan sarat makna.
***