Aja Were

Wimana

Wimana adalah seekor burung kahyangan yang sangat indah dan dengan diantar oleh burung kahyangan ini, sang pitara nantinya dapat menyaksikan keindahan masing-masing sorga, alam swah loka yang dalam Lontar Putru Pasaji diceritakan alam-alam sorga yang akan dilewati seperti Iswarapada, Brahmaloka, Budhaloka, Wisnupada, Swarga Manik dll.
Wimana yang merupakan burung kahyangan ini dalam kutipan kisah Kardama: Putra, Suami, dan Ayah yang Mampu Memberi Teladan juga diceritakan,
  • Kardama juga pernah mengendarai “Wimana”, sebuah kendaraan yang sangat indah ini dan beliau berkata kepada istrinya yang bernama Dewahuti,
    • “Istriku, masuklah Bindusara. Setelah mandi di dalamnya, kamu akan menemaniku berada dalam Wimana.
    • ”Tatkala Dewahuti mandi di Bindusara, tubuhnya kembali muda, cantik mempesona dan dengan memakai pakaian sutera dan perhiasan intan permata dia naik Wimana dan melihat Kardama sangat tampan yang segera menjalankan Wimana secepat angin dan tahun demi tahun telah lewat dan Dewahuti telah menjadi ibu dari 9 putri.
  • Pada suatu hari Dewahuti berkata,
    • “Aku tahu, kakanda akan segera meninggalkan aku menjalani wanaprasta dan menjadi sanyasin. Akan tetapi kabulkan permohonanku. Putri-putri kita nanti akan meninggalkan aku mengikuti suami mereka.
      • Selama ini aku tidak takut terhadap keterikatan dengan dunia karena ada kakanda.
      • Akan tetapi kakanda akan pergi, dan oleh karena itu aku mohon berikan aku seorang putra yang akan mengajariku bagaimana membebaskan diri dari keterikatan dunia ini.”
Kisahpun berlanjut, akhirnya Kardama menikahkan kesembilan putinya dengan para rsi yaitu :
  1. Kala dengan Marici;
  2. Anasuya dengan Atri;
  3. Sraddha dengan Angirasa;
  4. Hawirbhu dengan Pulastya;
  5. Gati dengan Pulaha;
  6. Kriya dengan Kratu;
  7. Khiyati dengan Bhrigu;
  8. Arundhati dengan Wasistha; dan
  9. Santi dengan Atharwa.
Sedangkan beberapa tahun kemudian, putranya yang bernama Kapila sudah menjadi anak kecil yang bijaksana dan mengijinkan ayahandanya melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai seorang Sanyasin.  Kardama hidup dalam kesunyian dan kini seluruh kesadarannya terpusat pada Brahman di kahyangan.
***