Aja Were

Srikandi

Srikandi adalah sosok yang Mandiri.

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba. 
Kisah mengenai Amba dimuat dalam Mahabharata jilid pertama, yaitu Adiparwa.
Pada suatu hari diceritakan bahwa Bisma, pangeran dari kerajaan Kuru, memboyong Amba dari suatu sayembara di kerajaan Kasi, tanpa mengetahui bahwa Amba sudah memilih Salwa sebagai calon suaminya.
Karena Bisma tidak ingin Amba menikah secara terpaksa, maka ia memulangkan Amba agar dapat menikah dengan Salwa. 
Salwa yang merasa harga dirinya terinjak tidak mau menikahi Amba. Amba pun kembali ke kediaman Bisma agar dinikahi, namun Bisma menolaknya karena bersumpah untuk hidup membujang selamanya. 
Karena merasa terhina, Amba memutuskan untuk berdoa kepada para dewa agar memperoleh cara untuk membunuh Bisma.
Menurut Mahabharata yang ditulis ulang C. Rajagopalachari, Dewa Subramanya, memberikannya puspamala dan bersabda bahwa orang yang bersedia memakainya akan menjadi pembunuh Bisma.

Amba pun mencari orang yang bersedia memakainya, namun tidak ada yang berani meskipun ada jaminan keberhasilan dari sang dewa.

Setelah ditolak berbagai kesatria, akhirnya Amba tiba di istana Raja Drupada, dan mendapatkan hasil yang sama. 
Dengan putus asa, Amba melemparkan puspamala tersebut ke atas gerbang istana dan tidak ada yang berani menyentuhnya. 
Setelah itu Amba pergi dan berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.

Saat Srikandi masih muda, ia mendapati sebuah puspamala tergantung di atas gerbang istananya. Ia pun mengalungkan puspamala tersebut di lehernya.

Drupada takut bahwa Srikandi akan menjadi musuh Bisma sehingga ia mengusir Srikandi agar kemarahan Bisma tidak berdampak pada kerajaannya.

Di tengah sebuah hutan, Srikandi berdoa dan berganti jenis kelamin menjadi laki-laki. Menurut versi lain, ia kabur dari Panchala, lalu bertemu seorang yaksa, yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada yaksa.

Perang di Kurukshetra
Dari kitab Mahabharata terbitan Gorakhpur Geeta Press—ditulis ulang oleh Ramanarayanadatta Astri—menggambarkan Bisma menolak untuk bertarung melawan Srikandi, sementara Kresna dan Arjuna menyaksikan dari dekat.
Saat pertikaian di Kurusetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba dan terlahir sebagai seorang wanita. Oleh karena Bisma tidak ingin menyerang "seorang wanita", maka ia menjatuhkan senjatanya. Setelah tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur (Arjuna dan Srikandi diceritakan dalam versi Jawa, menikah tanpa dikaruniai putra)
Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma. Dikisahkan Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.
Sumber cerita: Wikipedia

Terlepas dari ceritra yang ditulis di Mahabharata, menurut kami di kerendahan hati, bersyukurlah hidup di kehidupan kini, diberikan jaman yang bisa jernih memilih arah kehidupan dengan damai.
Jauhkan niat menjadi orang lain atau siapapun; 
Namun…
bertanggungjawablah pada keselamatan dan keamanan kerajaan bhuana Alit kita sendiri, anugrah Ida Sang Hyang Widhi.
Menjadi, diri kita sendiri, perempuan Bali yang sehat, cerdik dan damai hidup di kehidupan kini.
Mari hidup di masa kini dengan tangguh menghadapi berbagai persoalan hidup, namun tetap damai, sehat, lemah lembut, keibuan, cantik, menyandang tugas sesuai dengan fungsi kita masing masing.
Bila sebagai ibu rumah tangga, mengasuh dan mendidik diri, anak, penuh cinta kasih dalam keluarga sendiri dan keluarga suami.

Bila memilih hidup sendiri, merawat diri dan lingkungan penuh cinta kasih.
  • Miliki kemampuan yang hebat apapun pekerjaan kita; petani, penenun kain, pembantu, pegawai, polisi, pedagang, pilot, dokter dll, mampu memimpin diri kita sendiri, menjadi diri kita sendiri, menghargai keunikan diri kita sendiri. 
  • Semua pekerjaan, bila eling dikerjakan di jalan Dharma, adalah baik… 
Eling bahwa kita hadir di keunikan kita masing masing untuk saling melengkapi di kedamaian.
Jangan pernah tinggalkan amertha anugrah Ida Sang Hyang Widhi; menjadi perempuan Bali yang Shanti.
Demikianlah diceritakan oleh Jro Tjampuhan tentang Srikandi di Fb
Mampu menjadi diri sendiri yang Mandiri, itulah jalan yang terbaik. 
"Luung ngerawat dewek, Luih dadosne; Jele ngabeh dewek, Luu dadosne"
***