Selanturnyane

Upacara Ngebekin

Upacara Ngebekin adalah sebagai sarana pemujaan kepada Dewa Sangkara untuk memohon agar hasil tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat berhasil dengan baik dengan banten pokok dalam upacara Ngebekin di Pura Puncak Mangu dalam cara-bali disebutkan dengan menggunakan Banten Sorohan Pelupuhan untuk memohon Tirtha Ngebekin. 

Upacara Ngebekin ini disebutkan juga dilaksanakan saat Piodalan Purnama Sasih Kapitu di Pura Puncak Mangu, 
Umat dari delapan kelompok pemaksan setiap upacara Ngebekin membawa sujang yaitu potongan bambu yang masih hijau sebagai tempat tirtha. 
Namun demikian pentingnya tirtha ini,
  • Tirtha Ngebekin ini tidak boleh digunakan untuk nyiratang atau diminumkan kepada manusia. 
  • Tirtha Ngebekin itu hanya untuk kasiratang (dicipratkan) kepada sawah ladang dan tumbuh-tumbuhan pertanian. 
  • Tirtha Ngebekin itulah sebagai simbol penyucian dan pemeliharaan segala tumbuh-tumbuhan pertanian sebagai sumber hidup umat manusia. 
Upacara Ngebekin ini intinya tidak berbeda dengan upacara memandikan Lingga Yoni dalam sistem Siwa Pasupata
  • Air dengan berbagai perlengkapannya yang dijadikan sarana memandikan Lingga itu menjadi tirtha untuk memercikan tumbuh-tumbuhan di sawah ladang simbol mohon kesuburan. 
  • Upacara memandikan Lingga inilah dilanjutkan dengan istilah upacara Ngebekin dalam sistem Siwa Sidhanta
Meski demikian, keberadaan Lingga di Pura Pucak Mangu tetap dipertahankan di Pelinggih Tepasana. Yang menarik di sini banten utama yang digunakan yaitu Banten Pelupuhan Bebek. 
  • Banten-banten yang dipersembahkan ke Pura Pucak Mangu tidak boleh menggunakan daging babi
    • Kecuali kalau ada perbaikan pura terus dilangsungkan upacara Ngeruwak barulah banten Ngeruwak itu saja yang boleh menggunakan guling babi. 
  • Sedangkan di Pura Penataran Tinggan dipergunakan Banten Pelupuhan Babi. 
    • Banten Pelupuhan Babi ini menggambarkan cerita Batara Wisnu turun mencari pangkal Lingga ke bawah dengan menjadi babi hitam. 
    • Terus ketemu dengan Dewi Wasundhari. 
      • Dari pertemuan itu lahirlah Boma. Dewa Wisnu simbol air dan Dewi Wasundhari simbol pertiwi. 
        • Pertemuan air dan pertiwi melahirkan Boma. Kata Boma dalam bahasa Sansekerta artinya pohon. 
        • Canakya Niti menyatakan bahwa air, tumbuh-tumbuhan, dan kata-kata bijak adalah tiga ratna permata bumi. 
      • Kalau hal ini diutamakan oleh manusia maka kehidupan sejahtera itu pasti dicapai.
***