Nagapasa

Salah satu relif paduraksa candi bentar
di Pura Kawitan Bendesa Pemada Semate.
Nagapasa atau (Naga Pasa) adalah anak panah dengan seekor naga yang melilitnya, merupakan senjata Dewa Mahadewa sebagai sumber kekuatan intuisi dan penyatuan pikiran.
Simbol-simbol Nagapasa ini, juga banyak digunakan baik pada pengadegan, keris dll.
Di Bali dalam penggunaan simbol ini disebutkan sebagai berikut :
Berisi gambar Nagapasa yang dilengkapi di tengah-tengahnya dengan padma sebagai simbol Triloka lapisan dari alam semesta ini.
  • Dalam perkembangan keris pusaka di Bali, sebilah keris pusaka bertatahkan gambar seekor naga (Naga Pasa), dengan pesan bahwa keris ini dapat mempersatukan pikiran Raja Majapahit & Raja Bali.
Senjata Nagapasa ini dalam epos ramayana juga diceritakan :
  • Dengan panah Nagapasa yang berubah menjadi ribuan ular yang melilitnya, kisah Anoman dalam Fira's blog disebutkan berhasil diringkus.
  • Dan untuk mencoba menghalangi Prajurit Rama yang terus memasuki ibukota Alengka. Indrajit dalam kumpulan cerita wayang disebutkan siap dengan Pusaka Nagapasa ini, sebuah panah berbentuk ular naga yang begitu dilepaskan, 
    • Panah Nagapasa menghasilkan hujan ular di medan laga. 
    • Ular-ular berbisa itu sangat mematikan, hingga Prabu Rama dan Laksmana pun tak luput dari gigitannya. 
      • Mereka berdua terbius hingga tak sadar. 
      • Demi melihat keadaan itu Wibisana menciptakan ribuan burung Garuda untuk menyambar setiap ular dari senjata Nagapasa Indrajit ini.
Indrajit dalam epos ramayana versi IndonesiaIndonesia.com yang disebutkan bukanlah putra kandung Rahwana, melainkan hasil ciptaan Wibisana. 
Saat itu istri Rahwana yang bernama Dewi Kanung sedang mengandung bayi perempuan reinkarnasi seorang pertapa wanita bernama Widawati. Rahwana bersumpah akan menikahi putrinya itu jika kelak lahir, karena Widawati merupakan cinta pertamanya.
Ketika Kanung melahirkan, Rahwana sedang berada di luar istana. Wibisana segera mengambil bayi perempuan tersebut dan dihanyutkan ke sungai dalam sebuah peti. Bayi itu terbawa arus sampai ke Kerajaan Mantili dan ditemukan oleh raja negeri tersebut yang bernama Janaka. 
Janaka memungut bayi putri Rahwana tersebut sebagai anak angkat dengan diberi nama Sinta.
Sementara itu, Wibisana menciptakan bayi laki-laki dari segumpal awan yang diberi nama Indrajit. Bayi Indrajit diserahkan kepada Rahwana. Rahwana kecewa dan berniat membunuh Indrajit. 
Ternyata semakin dihajar Indrajit justru semakin tumbuh dewasa. Rahwana berubah pikiran dan mengakuinya sebagai anak.
Indrajit kemudian bertempat tinggal di Kasatrian Bikukung Pura. Istrinya seorang bidadari bernama Dewi Indrarum.

Dalam perang besar melawan bala tentara Sri Rama, Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa. Muncul ribuan ular menyerang pasukan Wanara.
***