Tahukah Anda

Pura Tamansari

by Widya Dharmasamadhi (ref1)
Pura Tamansari adalah salah satu dari Pura Dang Kahyangan yang dibangun oleh Ida Dang Hyang Astapaka, beliau merupakan keponakan dari Dang Hyang Dwijendra atau Ida Pedanda Sakti Wau Rawuh.

Sesuai kepercayaan dan lontar yang ada, Ida Dang Hyang Astapaka merupakan putra Ida Dang Hyang Angsoka. Dang Hyang Angsoka tak lain saudara kandung Dang Hyang Dwijendra atau Ida Pedanda Sakti Wau Rauh. 


Dipercaya, sebelum menetap di Desa Budakeling, Dang Hyang Astapaka setelah tiba di Bali dari Jawa sempat bermukim di Desa Ambengan, Gianyar atas perkenan raja Gelgel. 

Kedatangannya ke Bali atas undangan raja terkait berlangsungnya karya Homa. Sementara, Dang Hyang Dwijendra sudah lebih dahulu ke Bali dan menjadi bagawanta Raja Gelgel Dalem Waturenggong.

Kawignan Dang Hyang Astapaka sempat diuji di paseban istana. Di mana di tengah areal paseban digali lubang dan ke dalamnya dimasukkan seekor angsa. Lubang ditutup rapat sehingga angsa tak kelihatan. Saat paseban berlangsung, di mana Dalem dihadap petinggi kerajaan, angsa itu bersuara.

Raja bertanya kepada Dang Hyang Astapaka, suara apa gerangan dari lubang itu. Dengan mantap Dang Hyang Astapaka menjawab bahwa itu suara naga. Sontak mereka yang hadir di paseban menertawakannya.
Namun tiba-tiba dari dalam lubang yang sebelumnya diisi seekor angsa menyembul ke luar seekor naga.

Kemunculan naga itu membuat ngeri orang di paseban. Terbukti kawignan Dang Hyang Astapaka, kerajaan lantas mendaulatnya menjadi bagawanta kerajaan menapak jejak Dang Hyang Dwijendra. 


Suatu ketika karena alasan tertentu, Dang Hyang Astapaka kemudian berangkat ke arah timur Kerajaan Gelgel. Pada suatu ketika beliau melihat cahaya terang benderang memancar dari bumi ke langit. Sumber cahaya itu dicari dan diketahui berada di Desa Budakeling kini. 

Dalam yoga samadinya diketahui sumber cahaya itu merupakan tempat yang sangat baik untuk membangun pasraman

Tempat sumber cahaya itu ditancapi tongkat dari dahan kayu tanjung. Pohon atau bunga tanjung itu kemudian tumbuh subur. Di sana dibangun pasraman tanjung sari dan kini menjadi Pura Taman Tanjung. 

Pada saat hampir bersamaan juga dibangun tempat pamujaan Ida Dang Hyang Astapaka dan diberi nama Pura Tamansari sebagaimana disebutkan dalam Komentar dalam FORUM DISKUSI JARINGAN HINDU NUSANTARA.

Seperti kerap disebut dalam sumber-sumber babad, penggunaan Naga Banda itu bermula dari kisah Raja Gelgel sekitar abad ke-15 ini pula tatkala Dalem Waturenggong menguji Dang Hyang Astapaka.