Selanturnyane

Punden Berundak

Punden Berundak adalah sebuah konsep tempat suci yang ditempatkan di puncak ketinggian gunung atau perbukitan, yang harus dilalui melalui jalan yang bertingkat atau teras-teras sebagaimana disebutkan sudah ada sebagai tempat suci Bali Mula dari sejak jaman megalitikum.

Pembangunan tempat suci di pegunungan tersebut dalam Konsep ''Punden Berundak'' di Bukit Penulisan dijelaskan sebenarnya bukan hanya monopoli suku-suku bangsa di Nusantara, tetapi juga dilakukan oleh suku-suku bangsa lain di zaman purba, seperti :
  • Bangsa Yunani membangun kuil di pegunungan Olimpia,
  • Bangsa Mesopotamia (Irak Purba) membangun Zigurat di tanah yang tinggi,
  • Suku Bangsa Inka di Manchu (Peru) membangun sebuah pemukiman di puncak gunung yang tinggi.
  • Bangsa Iran di Haraberezaiti
  • Bangsa Palestina di Gerizim
  • dll
Di samping karena alasan keamanan, pembangunan pemukiman di pegunungan yang tinggi sangat terkait dengan penghayatan religius mereka, yang menempatkan gunung sebagai tempat suci tempat tinggal para dewa yang menjadi orientasi religi bagi penduduk di zaman kerajaan Bali Kuna.

Seperti contohnya, Pura Pusering Jagat yang memiliki makna sebagai pusar, pusat, atau sentral dari dunia di zaman Bali Kuna, bagaikan tali plasenta (ari-ari) yang berhubungan dengan ibu yang menyalurkan makanan bagi kehidupannya.
  • Hal ini identik dengan hubungan manusia dengan Tuhan,
  • yang secara geografis diidentikkan dengan hubungan manusia yang ada di dataran dengan dewa-dewi manifestasi Tuhan yang ada di pegunungan.
Dalam kehidupan ini tidak semua tempat memiliki tata nilai yang sama, tetapi memiliki tata nilai hirarkis, dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi.
    • Suatu wilayah diyakini memiliki wilayah energi dan kekuatan-kekuatan gaib dalam konsep ruang (mandala) dan waktunya.
    • Karena itulah orang-orang pada zaman dulu, tata wilayah dan arsitekturnya tidak diutamakan bagi kepentingan estetika bangunannya,
    • tetapi lebih ditekankan bagi kelangsungan hidupnya secara kosmis.
    • Artinya, manusia dan arsitekturnya merupakan bagian dari kosmos atau alam semesta.
      Karena itulah pada zaman dulu orang-orang telah membagi dunia ini menjadi tiga lapisan (tri bhuwana;"Tri Loka"). Dunia atas untuk para dewa, dunia tengah untuk kehidupan manusia dan dunia bawah untuk mahluk-mahluk lain. Dalam tata ruang wilayah, ada daerah pegunungan yang memiliki nilai suci, di wilayah dataran untuk area pemukiman, dan wilayah yang rendah untuk area pelayanan. 
      Sedangkan dalam perwujudan arsitektur diwujudkan ke dalam bentuk atap sebagai kepala, badan bangunan dan pondasi sebagai kaki bangunan.

      Sebagai contoh struktur tertua buatan manusia yang tersisa di Indonesia sebagaimana disebutkan Punden berundak (peninggalan zaman megalitikum), beberapa dari struktur tersebut bertanggal lebih dari 2.000 tahun yang lalu dimana tempat suci dalam konsep berundak ini disebutkan di Bali berjumlah banyak.
      • Situs utama meliputi daerah Penebel, Tenganan, Selulung, Kintamani, dan Sambiran. Miniature punden berundak yang masih digunakan dalam ibadah saat ini ditemukan di dua pura dalem di Sanur.
      • Satu dari pura di Bali yang paling penting yaitu Pura Besakih, dapat dilihat sebagai punden berundak.
      ***