Tenganan

Kata Tenganan berasal dari kata "tengah" atau "ngatengahang" yang memiliki arti "bergerak ke daerah yang lebih dalam". 
"Konon Tenganan juga merupakan hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur desa Tenganan Karangasem yang juga dahulu dalam kisahnya pernah mengalahkan Raja Detya Bali."
Kata tersebut dalam catatan sejarah Bali berkaitan dengan tradisi ayunan Desa Tenganan 1910 disebutkan berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan, yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin). 
Salah satu tradisi di Desa Tenganan yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah main ayun-ayunan yang dilakukan oleh Sekaa Teruna Teruni.
Tradisi main ayun-ayunan di Desa Tenganan #Pegringsingan yang dinaiki oleh para Daha (gadis) dan diputar secara manual oleh para Truna (laki-Laki). 
Ayunan ini hanya ada pada bulan kelima yang disebut Sasih Sambah selama satu bulan. Sasih Sambah ini merupakan salah satu bulan dimana berlangsungnya upacara-upacara adat terbesar yang diadakan di desa Tenganan Pegringsingan tersebut, biasanya jatuh pada bulan juni-juli.
Selain memiliki tradisi ayunan, Desa Tengenan juga memiliki sistem pemujaan dan tradisi yang unik seperti halnya :
  • Sebelum pengaruh Hindu datang ke Indonesia yaitu telah ada sejak 2500 SM, dalam pemujaan roh suci leluhur didirikanlah bangunan teras piramid dan menhir.
  • ”Perang pandan berduri” yang dikenal dengan tradisi mageret pandan yaitu Mekare-kare terdapat di desa Tenganan Pegeringsingan salah satu desa penduduk Bali Aga (Bali asli) yaitu orang - orang Bali Mula.
  • Sebagai aset wisata di daerah Karangasem, dalam EtnikBali disebutkan wisata Tengenan memiliki kunikan & kekhasan tersendiri baik dalam hal tradisi maupun cara pernikahan yang berbeda dengan tradisi Bali pada umumnya.
  • Dll.

***