Aja Were

Durjana

Durjana adalah orang-orang yang darah dan dagingnya dipenuhi oleh kejahatan. 

Dikatakan dalam Canakya Niti Sastra 10.10, 
Durjanam sajjanam
kartum upayo na hi bhutale
apanam satadha dhautam
na sresthamindriyam bhavet

Artinya :

"Sebagaimana anus walaupun dengan berbagai cara dan ribuan kali dipuji, tetap saja ia tidak bisa menjadi mulut"

Dan mengubah orang jahat seperti ini menjadi orang baik-baik bukan susah melainkan tidak mungkin. Sifat dan kelakuan jahat sudah menjadi darah dan daging bagi orang jahat. 
Kejahatan sudah menjadi dan memberikan “kepuasan” tersendiri baginya. 
Bahkan ia tidak akan bisa hidup tanpa “kepuasannya” tersebut, yaitu tanpa berbuat jahat mereka merasa hari-harinya menjadi aneh dan “tanpa rasa”.

Diceritakan ketika permainan dadu telah usai dalam Epos Mahabharata pada zaman dahulu diceritakan kebatilan Duryudana dan kelicikan Sakuni telah memenangkan pertaruhan.

Ketika itu para Pandawa tertunduk lesu. Drupadi terlecehkan sebagai taruhan yang kalah.

Duryudana dan kaum durjana tertawa menyeringai puas. Segala tipu daya mereka berhasil mengalahkan Dharma.
Pandawa kehilangan harta, kehilangan tahta. Drupadi menangis lirih dalam kesedihan. Apakah mereka juga kehilangan cinta?
Oh tidak kawanku. Lihatlah rakyat tertunduk lesu menyembunyikan wajah sedih mereka, namun tak kuasa menyembunyikan rasa cinta mereka yang besar. 
Cinta merekalah yang menyertai Pandawa terasing di tengah hutan hingga 12 tahun. 
Dua belas tahun, kawan. Bukan dua tahun.
Hutan tak mampu mengasingkan Jiwa-Jiwa yang terkenal. Penjara tak mampu memenjara Jiwa-Jiwa yang bebas merdeka. 

Skenario masih akan berlanjut kawan. Sabarlah menonton wayang-wayang dunia ini bermain di balik layar.

Pandawa akan makin sakti di tengah pengasingannya. Mereka tidak sedang dipenjara dengan keterasingan dan kebuasan hutan. Mereka sedang dikirim ke ruang belajar sesungguhnya. Jangan bersedih kawanku.

Kelak mereka akan kembali mengantar kemenangan. Mereka akan menang, bersiaplah bertempur.
Adharma akan selalu dimenangkan di awal, agar Dharma bisa selalu menang pada akhirnya. Percayalah kawan.
Kirimlah bunga-bunga hatimu sebagai tanda cinta. Kirimlah semangatmu agar mereka tekun belajar. Sebab berkah langit akan turun bagi kebenaran yang sedang ditempa penderitaan.

Percayalah, kelak akan tiba kebenaran Krishna menjadi kusir yang mengendalikan peperangan untuk membawa kemenangan bagi kebenaran.

Satyam eva jayate, Dan bagaimanapun kebenaran akan selalu dapat mengalahkan para durjana.
***