Aja Were

Buda Wage Langkir

Buda Wage Langkir disebut juga dengan Buda Cemeng Langkir, kata Cemeng itu dapat diartikan sebagai Ireng, peteng, gelap dan juga malam. 
Buda Wage Langkir dirayakan oleh umat Hindu 4 hari setelah hari raya Kuningan tepatnya, setiap 6 bulan sekali atau setiap 210 hari.
Pada saat hari Buda Wage Langkir seseorang diharapkan untuk mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, dengan jalan mengendalikan sifat - sifat kenafsuan atau indria - indrianya.

Dalam satu tahun kalender Bali umat Hindu merayakan hari Buda Wage atau Buda Cemeng sebanyak 6 kali dan terdiri dari ;
✓ Buda Wage ukir
✓ Buda Wage Warigadean
✓Buda Wage Langkir
✓Buda Wage Merakih
✓Buda Wage Menail
✓Buda Wage Klawu
Buda Wage Langkir merupakan hari suci yang perhitungannya berdasarkan atas wuku dan juga merupakan pertemuan dari unsur sapta wara Buda (Rabu) dan unsur panca wara Wage serta wuku Langkir.

Buda Wage Langkir merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Manik Galih atau Sang Hyang Sri Sedana merupakan sakti dari Dewa Wisnu atau yang sering disebut juga dengan Sang Hyang Sri Nini yang berfungsi sebagai Dewi kesuburan dan juga Dewi kemakmuran.

Di dalam kutipan Lontar Sundari Gama
disebutkan bahwa ;
Buda Wage disebut juga Buda Cemeng, pada hari suci tersebut merupakan hari payogan dari Sang Hyang Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara Amrta atau inti hakekat kehidupan diluar ruang lingkup dunia skala.
Disanggar atau merajan dan diatas tempat tidur menghaturkan canang wangi - wangian dan juga persembahan kepada Sang Hyang Sri, serta pada malam harinya dilaksanakan perenungan suci
atau semadhi.

Bunga adalah lambang ketulusan dan keikhlasan pikiran yang suci ...
(Lontar Yadnya Prakerti)
Dari semua itu dapat kita petik hikmahnya, bahwa sebagai umat manusia kita harus berusaha untuk bisa mengendalikan diri dan juga mengekang segala hawa nafsu yang ada pada diri kita.
Siapapun yang mampu mengendalikan indrianya dan memusatkan pikirannya kepada Ku, dialah orang yang memiliki kesadaran sejati ...

Wujud rasa syukur itu tidak dinilai dari besar kecilnya uang ataupun harta yang dimiliki, akan tetapi sebagai perwujudan penghormatan dan rasa syukur atas semua anugerah kesehatan, rejeki, kekayaan, kemakmuran  dan kesejahteraan yang kita terima.

Makna dari semua isi susastra Hindu terkait Buda Wage Langkir tersebut intinya disebutkan bahwa uang itu pada hakekatnya adalah merupakan sarana dan bukanlah merupakan suatu tujuan
dari hidup.

Apabila uang tersebut digunakan sesuai dengan konsep ketuhanan sebagai alat (sarana) maka uang itu akan sangat berguna untuk mengantarkan manusia itu untuk mendapatkan hidup yang bahagia lahir batin ...
***