Aja Were

Dewi Kadru

Dewi Kadru adalah simbol dari seorang wanita yang ambisius;
Namun demikian, Beliau memiliki jiwa kesabaran yang tinggi bagi anak-anaknya.
Dalam kisahnya, Dewi Kadru adalah istri dari Rsi Kasyapa yang merupakan salah satu putri dari Bhagawan Daksa yang dalam KitabPurana disebutkan bahwa :
Putra-putra Dewi Kadru juga dikenal sebagai naga atau ular
Di antara yang lebih penting dari putra-putra Kadru adalah Ananta, wasuki, Takshaka dan Nahusha sebagai simbol sakral yang disebutkan di Bali berkaitan dengan keselamatan bumi ini.
Ular besar yang bernama Kaliya dalam Wisnu Purana juga dikisahkan pernah dikalahkan oleh Garuda dan Sri Krishna kembali menyelamatkannya.
Pada zaman dahulu diceritakan sosok Dewi Kadru digambarkan sebagai seorang wanita yang ambisius dimana beliau berprinsip banyak anak adalah barometer keunggulan, karena baginya kuantitas merupakan jaminan atas kekuatan diri,
Sehingga ia meminta seratus butir telor kepada Rsi Kasyapa suaminya dan berkeinginan memenangkan kompetisi untuk memiliki anak lebih awal dari para istri sang Rsi.
Dalam hal ketelatenan sebagaimana disebutkan telor diantara dua wanita disebutkan bahwa :
Dewi Kadru digambarkan lebih sabar atau tidak keburu nafsu apabila dibandingkan dengan Dewi Winata, dimana ia mampu menahan diri menunggu tiba waktu bagi telor-telornya menetas dengan sendirinya pada hari ke-21, dan terbukti melahirkan ular-ular dengan kombinasi ruh-wadag yang sempurna.
Keinginan yang telampau kuat, apabila tanpa kendali, bisa menggelincirkan orang kepada keburu nafsu atau kecerobohan, yang karenanya beresiko hadirnya ketidaksempurnaan.
Keinginan yang demikian antara lain dipicu oleh persaingan (competition), kecemburuan (jeleousy), atau keinginan untuk melebihi pihak lain (superlative), yang apabila tidak bijak dalam mengelolanya justru bisa memblunderkan buah upayanya.
Pada dunia perempuan, fenomena psikologis yang demikian tak terelakkan ada dalam dirinya. Terlebih lagi pada dua atau lebih perempuan yang berada di dalam permaduan sebagaimana dicontohkan oleh Winata dan Kadru.
Pada penggalan kisah dalam Adiparwa tersebut,
  • Dewi Winata dicitrakan sebagai perempuan yang tidak ambisius dan lebih mengedepankan aspek kualitas daripada kuantitas. 
  • Namun Dewi Kadru, dicitrakan sebagai lebih ambisius, mengedapankan aspek kuantitas daripada kualitas. Pengedepanan aspek kuantitas atau sebaliknya kualitas mempunyai alasannya masing-masing, dan itu adalah ‘pilihan’.
Sosok Dewi Kadru dicitrakan ambisius, namun teruji kesabaran atau ketelatenannya untuk menunggu tiba waktu penetasan telornya.
Sebenarnya citra kepribadian demikian adalah fenomena psikologis yang universal – yang ada atau tidak ada di dalam diri siapun, kapanpun dan dimanapun, tak terkecuali pada Winata ataupun Kadru.
Terkandung pesan dalam kisah tersebut adalah bahwa saat mengandung bayi atau mengerami telor adalah ‘kondisi krusial’ dalam kejiwaan perempuan.
Oleh karenanya membutuhkan keseksamaan, keuletan, ketelatenan, kesabaran, serta ketenangan jiwa-raga. Kesalahan dalam bertindak, beresiko besar dan panjang, sebab bakal berdampak serius kepada gerasi penerus (keturunan) nya.
***