Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Pemangku Sonteng

Pemangku (atau Jro Mangku) Sonteng adalah seorang pemangku yang kewenangannya dapat menjadi pemimpin upacara yadnya yang tergolong alit yaitu :
Seseorang yang telah menjalankan eka jati dalam tingkatan pertama dari kesucian seorang sulinggih
Dan sonteng berarti mengkomunikasikan yang dapat mengantarkan persembahan umat kepada Tuhan dengan saa &doa, mantra dan puja yang dalam Siwa Siddhanta disebutkan baik itu upakara termasuk Yajna ataupun persembahan suci.
Pamangku Sonteng atau Balian Sonteng ini dalam kutipan artikel Pasraman Girinatha juga dijelaskan bahwa pamangku ini tidak tergolong ke dalam Pamangku Tapakan Widhi vang bertugas di tempat suci atau pura tertentu. 
Namun tugasnya juga dapat menyelesaikan upacara yang biasa diselenggarakan di luar pura, seperti manusa yajna dari macolongan sampai dengan wiwaha dll dalam tingkatan alit.
Pelaksanaan upacara pecaruan panca sata juga dapat dipuput oleh seorang mangku sonteng dimana diceritakan Babad Bali yaitu sebagai berikut ini :
Kisah bermula dari suatu petaka yang dialami oleh seorang petani, keadaan rumah tangga yang berantakan, sakit-sakitan dan beban mental berkepanjangan dari keluarga I Made Sekep di Sobangan, ia menerima pawisik untuk mengatasi permasalahan yang dialaminya, yang bersangkutan diberi petunjuk melakukan yasa kerti di suatu tempat suci di Dusun Selat, Desa Sobangan, Mengwi.
Atas petunjuk itu, I Made Sekep sekeluarga mencari informasi tentang keberadaan tempat di mana dia perlu mengadakan yasa kerti tersebut. 
Kemudian ternyata tempat di mana dia perlu mengadakan yasa kerti tersebut. Kemudian ternyata tempat itu adalah tanah garapan dari I Nyoman Masi (Mertuanya Made Sekep) di mana di atasnya teronggok gundukan tanah yang berisi batu-batuan.
Berdasarkan petunjuk (pawisik yang diperoleh sebelumnya, pada subha dewasa (dewasa ayu) tanggal 23 Maret 1983, I Made Sekep dan keluarga mengadakan yadnya Pecaruan Panca Sata yang dipuput atau (dienter dan dipuput oleh mangku (sonteng) Pan Lamun dari Desa Sobangan. Melalui pamangku tersebut diperoleh pawuwus (pawisik; petunjuk) tempat itu adalah tempat suci.
***