Aja Were

Kala Rahu

simbolismi occulti connessi al concetto di Kala Rau
Kala Rahu (Kala Rau) adalah kisah perjalanan Sang Hyang Rahu menciptakan semua kala yang dalam lahirnya dwi wara disebutkan, 
  • Terbuka dan tertutupnya siang dan malam hari, 
    • dimana Matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat
  • yang berpengaruh terhadap watak kelahiran manusia.
    • Seperti halnya dalam kisah kelahiran Jalandara yang pada zaman dahulu sering mengganggu kahyangan.
Dahulu diceritakan, tersebutlah seorang raksasa bernama Kala Rau yang merupakan putra dari sang Wipracitti dan sang Singhika yang dalam kisah pemutaran mandara giri disebutkan Kala Rau merubah wujudnya menyamar menjadi dewa
  • tetapi sayangnya penyamaran kala rau tersebut diketahui oleh Sang Hyang Adtya dan Sang Hyang Candra dan langsung diberitahukan kepada dewa Wisnu.
Tepat ketika raksasa yang menyamar tersebut mendapat giliran meminum tirta amerta, betapa bahagianya ia dapat meminumnya.

Namun, baru sampai tirta amerta tersebut di tenggoraknnya, Dewa Wisnu seketika menghempaskan Cakranya memenggal leher sang raksasa hingga kepalanya terpisah dari badannya.
  • Badan raksasa itupun mati 
  • tetapi kepalanya masih hidup 
  • karena tirta amerta telah menyentuh hingga tenggoroakannya.
Sang Raksasa pun menjadi marah kepada Sang Hyang Aditya dan Sang Hyang Candra karena mengacaukan penyamarannya dan Kalarau pun bersumpah akan memakan mereka pada saat pertengahan bulan yang disebut sebagai Gerhana Bulan dalam dokumentasi patung dan monumen di Bali yang juga diabadikan dalam fragmen Kala Rau di Taman Ciung Wenara, sebelah barat Kantor Bupati Gianyar.
***