Aja Were

Wong Samar

Wong Samar adalah para butha yang berbentuk manusia tetapi tanpa lekukan pada bibir atas, berdiam di semak-semak, dan muncul sore hari sebagaimana disebutkan pada kajeng kliwon, sang tiga buchari ini biasanya berkumpul menjadi satu keluarga seperti manusia, 
sehingga sering disebut wong samar dan hidup seperti manusia tetapi tidak dapat dilihat oleh manusia awam. 
Sewaktu-waktu jika dia berkehendak dilihat oleh manusia 
  • dia akan memperlihatkan dirinya dan 
  • bergaul dengan manusia.
Pada umumnya wong samar ini bersifat baik untuk manusia yang telah melaksanakan dharma agamanya.

Dalam Petilesan Majapahit diceritakan dalam Babad Bendesa Manik Mas
Pada zaman dahulu, ke arah timur perjalanan Danghyang Nirartha, tiba-tiba bertemu dengan seekor naga menganga bagaikan goa.
Masuklah beliau, dan ada telaga berisi bunga tunjung sedang mekar, ada yang putih, merah dan hitam. Lalu dipetik bunga itu. 
Baru keluar dari perut naga, sirnalah naga itu, menyeramkan dan berubah-ubah wajah Danghyang Nirartha, terkadang merah, hitam, dan putih silih berganti. Itu sebabnya pucat istri dan para putranya melihat sang rsi. 
Kemudian terlihat istrinya Sri Patni Kiniten demikian juga putra-putranya. Tetapi Ida Ayu Swabawa terlihat paling akhir dalam keadaan pingsan, karena diperdaya oleh orang desa di Pagametan. Lalu marah sang Rsi seraya mengutuk orang Desa Pagametan menjadi wong samar bernama wong Sumedang berikut desanya disirnakan. Demikian kisahnya.
Adapun Ida Ayu Swabawa sirna sebagai dewa wong Sumedang, berstana di Pura Dalem Melanting disembah sebagai Dewa Pasar.
***