Aja Were

Janji

Janji adalah ucapan atau pernyataan yang memberikan harapan kepada orang lain.
Ketika di tepati, 
maka sebuah janji akan bernilai baik.
Kalau tidak di tepati dia akan jadi sebuah hutang. 
Dan kalau benar2 tak ditepati dia akan menjadi sebuah kebohongan....

Jadi dalam ajaran Hindu Dharma disebutkan, berhati hatilah dgn janji.
Tanamlah benih benih kebaikan di ladang hati kita. 
Sirami dengan cinta, pupuklah dengan kasih. Jangan lupa cabuti rumput rumput liar iri hati dan dengki, yang menghambat pertumbuhan sadana kita. 
Bersabarlah untuk beberapa waktu. Bhakti yang kita tanam, suatu saat pasti akan berbuah lebat. Dan kita akan menikmati manisnya kebahagiaan.

Dengan telah menepati sebuah janji, seorang pertapa akhirnya dapat menyelamatkan jiwa dari mahluk lain.

Diceritakan Putra Barak Jelantik dalam Hindu Dharma di fb (ref);
Pada suatu masa, Dewa Shiva merencanakan untuk menguji seorang pertapa. 

Pertapa ini adalah seorang telah melepaskan keduniawian. 
Ia telah mengucapkan dua janji yaitu : 
  • Tidak akan menyakiti yang lain; dan 
  • Tidak akan berbicara yang bohong. 
Pada suatu hari, Ia sedang melaksanakan penebusan dosa dengan penuh tekad untuk dapat memenuhi kedua janjinya itu dalam hidupnya. 
Dewa Shiva mengambil wujud sebagai seorang pemburu dan sedang mengejar seekor kijang dan Beliau membuat situasi agar kijang tersebut ada dihadapan sang pertapa. 

Karena kijang tersebut melompat-lompat dan berlarian maka sang pertapa membuka matanya dan melihat kijang itu. Ketika ia membuka mata maka ia melihat kijang tersebut lari untuk menyelamatkan jiwanya dengan sembunyi di balik semak-semak. 

Dewa Shiva yang dengan wujud pemburu datang kemudian. Beliau berkata,”Tuan, saya datang untuk mengejar seekor kijang. 
Apakah tuan melihat kijang tersebut?”
    • Jika sang pertapa berkata bahwa ia tidak melihat kijang itu maka itu berarti adalah kebohongan yang besar. 
    • Jika ia mengatakan bahwa ia telah melihat kijang itu maka pastinya si pemburu akan menanyakan tempat persembunyian si kijang. 
    • Jika sang pertapa mengatakan bahwa kijang bersembunyi di dalam semak-semak maka pastinya si pemburu akan menyakiti kijang itu. 
Dalam keadaan seperti itu (sang pertapa) akan merasa bersalah dengan melanggar janjinya dengan menyakiti yang lainnya. 
Dalam saat itu, sang pertapa berdoa kepada Tuhan, Ida Sanghyang WIdhi, “Oh Tuhan, tolong berikan hamba sebuah pandangan, pikiran sehingga kedua janji hamba tidak dilanggar.” 

Bagi seseorang yang berdoa dengan kemurnian hati maka Tuhan akan menjawab dalam sekejap. Jika doa hanya di bibir saja, maka Tuhan tidak akan menjawabnya walaupun dalam setahun lamanya. Bagi seseorang yang berdoa dari hati maka akan langsung ada gema, pantulan dan reaksi.

Sebuah ide yang cemerlang muncul di dalam benak sang pertapa dengan rahmat Tuhan. Sang pertapa menjawab,
”Sesuatu yang melihat tidak dapat berbicara; sedangkan sesuatu yang dapat berbicara tidak dapat melihat; apa yang dapat saya lakukan? 
Oh pemburu, mata ini telah melihat kijang itu namun kedua mata ini tidak bisa bicara karena tidak memiliki mulut. Sedangkan mulut yang dapat bicara, namun tidak bisa melihat. Bagaimana mulut berbicara sesuatu yang tidak dilihatnya?”

Dengan jawaban yang bijaksana itu, sang pertapa tidak hanya menjunjung tinggi kesetiannya pada kebenaran namun juga dapat melindungi hidup si kijang itu. 
Dengan cara ini, sang pertapa lolos dari situasi ini. 
Dewa Shiva kemudian muncul dengan wujud Beliau yang sebenarnya di hadapan sang pertapa dan memberkatinya dengan kebebasan. 

Maka dari itu dikatakan, kebenaran adalah jiwa bagi lidah. Kebajikan adalah jiwa bagi tangan. Tanpa kekerasan adalah jiwa dari hati.

Hikmah yang dapat dipelajari : 
Manusia terpaksa berbicara dusta karena takut mereka akan mendapatkan masalah. 
Engkau perlu takut hanya ketika engkau melakukan kesalahan. 

Jika engkau menjalankan Satya dan Dharma maka engkau tidak perlu takut. Jika saja, ada sebuah situasi dimana jika dengan berbicara benar dapat membawa pada beberapa bahaya atau masalah, jangan berbicara benar. 

Pada saat yang bersamaan, engkau tidak boleh melakukan dosa dengan berbicara dusta. Lakukan saja hening. 
Adalah lebih sulit untuk menjaga sebuah kebohongan daripada menopang kebenaran. 
Manusia sedang berbalik arah dari takdirnya ketika ia gemar akan berdusta. 
Hanya dengan bhakti yang tidak ternoda dan menjunjung tinggi kebenaran maka seseorang bisa menyadari Tuhan.
***