Aja Were

Guru Bhakti

Guru Bhakti adalah sujud bakti terhadap para guru yang telah membimbing, menuntun dan mendidik demi kemajuan kita.
Dengan sujud berarti kita hendaknya disebutkan selalu dapat menghormati beliau.

Bhakti atau rasa cinta yang mendalam disertai rasa hormat yang tinggi, merupakan spirit kehidupan di Bali. Seperti halnya dikutip dalam salah satu artikel Hindu Dharma di fb
Spirit bhakti ini menjiwai dan menggerakkan semua aktivitas dan kreativitas masyarakat. Jadilah Bali seperti sekarang.

Ibaratnya bhakti kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, menghasilkan budaya religi yang bukan hanya vertikal, dimana pemujaan atau sembahyang kepada Dia dengan segala manifestasiNya disebut dengan 'mebakti', mengekspresikan rasa bhakti, tetapi juga bersifat horizontal yang mengapresiasi, menjaga dan merawat semua bentuk ciptaanNya. 
Alam Bali pun tersentuh bhakti karenanya. 
Setiap tempat dan objek yang tersentuh bhakti akan tersucikan dan kemudian akan memancarkan energi positif.

Bhakti kepada para guru dan bhakti kepada para pemimpin menghasilkan budaya Sor-singgih dalam berkehidupan sosial, menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya. Kalau dalam hal berkomunikasi, ada tingkatan bahasa untuk memposisikan diri dengan tepat. 
Ada permainan rasa dalam berbahasa, untuk membahasakan rasa bhakti. 
Ini yang membuat masyarakat Bali ( dan juga daerah atau negara lain yang memiliki tingkatan bahasa) memiliki keramahan yang kualitasnya jauh di atas sekedar basa basi atau teori service excellent dalam penjualan.

Beberapa hari lalu ada seorang mantan guru SMP kami yang meninggal. 
Teman saya yang memberikan informasi mengatakan bahwa 'mayatnya' masih berada di rumah sakit. 
Mendengar kata mayat yang dipakai untuk jenazah seseorang, apalagi seorang guru, saya spontan memberikan koreksi. Kenapa tidak memakai kata jenazah? 
Spontan pula teman saya menyadari kesalahannya, telah mengucapkan kata yang tidak pantas untuk almarhum. 
Begitulah bahasa.. 
begitulah bhakti.

Tantangan dalam memiliki dan mengekspresikan bhakti pada jaman kita sekarang ini, jauh lebih berat dibandingkan dengan jaman para pendahulu kami. Godaan yang dapat menggoyang dan menggerus bhakti terlalu banyak berkeliaran.

Globalisasi dan kemajuan teknologi membawa dampak yang signifikan terhadap cara pandang dan mindset sebagian masyarakat. Lalu lintas informasi yang sangat besar, sangat luas dan sangat cepat, menyebabkan disrupsi (kekacauan, kebingungan) di segala bidang.

Baru di jaman ini ada penyakit gagap mental ( berpikir) dan gagap dalam berkesadaran (istilah gagap dulunya hanya dikenal dalam hal berbicara). 
Takdir ini harus diterima tanpa persiapan.
Gagap dalam berpikir memberikan panggung bagi ego. Baik ego pribadi maupun ego kolektif. Tiba-tiba ada kelompok yang menampakkan ego merasa paling benar, ego merasa paling berhak, ego ketakutan merasa terancam, dan sebagainya, dan seterusnya.
Demikianlah gagap dalam berkesadaran telah mengerdilkan bhakti.

Solusinya?
Jaman now ini harus dijawab dengan mengedepankan Sadhana atau pemberdayaan diri dengan latihan-latihan spiritualitas secara holistik untuk mengembangkan kesadaran dan kapasitas diri.

Pada jaman disrupsi ini, bhakti tidak bisa berdiri sendiri, tidak cukup sebagaimana para tetua kami jalankan. 
Jalan jnana, jalan karma dan jalan raja yoga harus ditempuh berbarengan.

Salam bhakti dari Bali..
***