Aja Were

Lontar Tanpa Aksara

Lontar tanpa aksara dapat dipahami seperti ungkapan sastra tanpa tulis.

  • Lontar sebagai naskah kuno.
  • Tanpa aksara berarti yang tak terbatas hanya pada fisik.
Dalam pendakian spiritual ilmu abadi disebutkan, 

Ungkapan lontar tanpa tulis ini sering dijumpai dalam pembacaan teks produk abad silam yang kita pahami sebagai suara dari masa lalu.

Ibarat mencari jejak bangau terbang, begitu metafora ini yang sering dikatakan orang kepada kita.

Jejak itu pasti ada.
Tinggal bagaimana menemukannya.

Pencarian yang dilakukan para pemikir sejak zaman dahulu, akhirnya menemukan jejak itu bukannya di langit atau di awan tapi di dalam diri Si pencari jejak.

Begitu pula tradisi mengajarkan; apa yang ada tidak bisa langsung dipahami, seperti :
    • Malam hanya didapat setelah melewati siang. 
    • Begitu pula yang disebut kosong hanya didapat dengan menghilangkan kepenuhannya. 
Namun hanya orang yang penuh (siddhi) disebutkan bisa mengadakan Yang Kosong (sunya) di dalam dirinya. 
  • Orang yang tidak pernah penuh tidak bisa menjadi kosong. 
  • Orang yang berangkat ke timur akan datang dari barat. 
Demikian pula sebaliknya.

Sejatinya keindahan sastra bukan melayang-layang antara bahasa dan pikiran pembaca. Keindahan itu nyata ada pada orang yang bersastra ketika mereka telah menjadi sastra itu sendiri. 

Begitu kita diajarkan, dan seperti itu kita hendaknya memahami. 

Sastra seperti itu akan nyata ada bila ada orang menjadikan dirinya sastra. 

Seperti sebuah jalan, 
ia hanya akan ada kalau ada orang berjalan. 

Keindahan yang dijanjikan sastra semacam itu akan nampak nyata pada orang yang berhasil dalam proses ”menjadi” itu.  

Jalan setapak akan membentang sampai tujuan, bila Si Pejalan Kaki telah sampai ke tujuan. 

Demikianlah disebutkan sastra tidak terbatas pada bahasa, tidak juga pada pikiran, tapi di luar itu. 
Mereka mungkin sampai pada ruang yang tidak lagi bisa dimasuki bahasa. Konsekuensinya, tidak juga bisa dimasuki pikiran. 

Karena itu, 
untuk melanjutkan perjalanan batinnya, mau tidak mau bahasa harus ditanggalkan. 
  • Dan Harus rela, betapa pun indahnya seni bahasa. 
  • Bila tidak, 
bahasa akan menjadi beban menambah berat perjalanan ke tujuan. 

Ibaratnya seperti perahu mengantarkan orang ke seberang sungai. 
Setelah sampai, perahu itu ditinggalkan bila perjalanan hendak dilanjutkan. Apalagi yang ingin dituju adalah puncak gunung. 

Karena keindahan perahu adalah hambatan sebuah pendakian. 

Dan alangkah ironisnya, 
bila ada orang mendaki gunung dengan menjunjung perahu di atas kepalanya.

Demikianlah perjalanan hidup ini juga disebutkan tidak terbatas hanya pada fisik dan jalan iyu untuk mencapai tujuan dan kesempurnaan.
***