Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Upacara Ngalinggihang Weda

Upacara Ngalinggihang Weda adalah ngalinggihang/mensatanakan Sang Hyang Weda ke dalam angga sarira sebagai prosesi lanjutan setelah upacara mediksa.
Dan adapun tujuannya sebagai evaluasi bagi sang sulinggih yang baru melinggih, atas kemampuannya dalam melaksanakan kewajiban melafalkan puja weda mantra, sikap, dan perilaku lainnya yang mencerminkan kasulinggihannya.
Dalam kepanditaan disebutkan prosesi ini disaksikan oleh Nabenya serta Viku Saksi lainnya.
Pada upacara ini seorang Sulinggih dites kembali apakah yang bersangkutan sudah menguasai Veda dengan baik atau belum.
Setelah upara ngalinggihang Veda ini dapat dilaksanakan dengan baik, barulah seorang Pandita/Sulinggih memiliki kewenangan menyelesaikan upacara tingkat yang tertentu, sesuai dengan ijin dari Nabenya. 

Untuk dapat menyelesaikan upacara tingkat yang benar (upacara yang menggunakan Sanggar Tawang Rong Tiga). 

Seorang Pandita/Sulinggih harus memiliki kemampuan dalam penguasaan veda yang diistilahkan apas sang linga, yaitu tingkat tertentu dalam penguasaan Veda.

Bagi Sulinggih yang telah berhasil melewati tahapan penguasaan veda sebagaimana tersebut di atas, maka tugas pokok seorang Pandita/Pendeta/Sulinggih adalah Ngeloka parasraya yaitu melaksanakan tugas selaku sandaran umat untuk memohon bantuan/membantu umat dalam hal kehidupan keagamaan secara umum. 

Prosesi Ngalinggihang Weda yang dilalui seorang sulinggih pasca didiksa. Rentang waktunya yakni abulan pitung dina atau 42 hari untuk menandai seorang sulinggih bisa memimpin sebagian upacara, kecuali pitra yadnya dan dewa yadnya tingkat utama.
Kewenangannya akan penuh ketika usai melalui prosesi Mapulang Lingga. “Sesuai sastra suci, setelah Ngalinggihang Weda, seorang sulinggih berhak muput karya, kecuali pitra yadnya dan nyatur.
Upacara Ngalinggihang Weda bermakna ngalinggihang Sang Hyang Weda ke dalam angga sarira sang sulinggih. Dengan upacara tersebut, maka diharapkan puja weda mantra yang diucapkan sang sulinggih memiliki taksu atau kekuatan.

Prosesi tersebut diakhiri dengan penyampaian pesan-pesan tertentu oleh guru nabe, guru waktra, guru saksi kepada sang sulinggih yang bersangkutan.

Adapun prosesi Agalinggihang Weda, pada intinya seorang sulinggih mulai ngaweda atau melantunkan mantra suci memimpin upacara.
***