Aja Were

Lontar Dharma Laksana

Lontar Dharma Laksana berkaitan dengan pembuatan bade, wadah dan kelengkapan lainnya dalam upacara Ngaben, pembuatan tombak sebagai tutur Bhagawan Wiswakarma.

Dikatakan Nyoman Jro Alit, dalam lontar itu ada aturan dasar yang mesti dipakai seorang undagi bade.
Artinya, dalam pembuatan itu tidak boleh hanya mengutamakan seni, tetapi harus sesuai dengan aturan. 
Misalnya, seseorang minta bade palih taman, mestinya seseorang tukang (undagi) mesti tahu apa itu palih taman. 
Jangan sampai karena kekurangtahuan justru yang dibuat palih gunung atau palih tanjak.
Ditambahkan, yang disebut palih itu sebetulnya palinggih atau tempat suci. Dalam bade, selain palih taman ada istilah palih sari, palih batur dan gunug gopel. Jika empat macam palih itu disatukan disebut palih macira atau petira (agung).

Bagaimana proses pembuatan bade? 
Berdasarkan konsep Gugu Laksana, pembuatan bade diawali dengan pencarian papah, bagian dari daun pohon kelapa. 
Papah itu nantinya akan dipakai untuk mengukur, baru kemudian membuat gegulak yang memiliki pengertian sederhana ''percayalah apa yang kita buat.''
Tahap selanjutnya undagi mengukur jenazah yang terbagi menjadi tiga bagian -- kepala, badan dan kaki. 
''Jika sekarang mengukur jenazah bisa menggunakan meteran, tetapi beberapa undagi masih banyak menggunakan cara lama seperti sikut depa, satu cengkang atau guli. 
Jika seseorang menggunakan ukuran lama, itu sangat erat dengan keyakinan. Oleh karena itu, pengukuran dengan cara tersebut harus disertai banten ituk-ituk yakni canang tempelan, beras, jinah solas keteng (uang kepeng 11 buah), benang dan banten pejati
Ituk-ituk itu memiliki makna sebagai pemberitahuan bahwa seseorang undagi akan melaksanakan kerja.
Sanksi apa yang akan diperoleh jika seorang undagi melanggar Dharma Laksana? 
Turun mengatakan, secara sekala sanksi itu tidaklah mengkhawatirkan. 
Jika seorang undagi melanggar paling-paling masyarakat bertanya siapa pembuatnya. ''Tetapi secara niskala kita tidak tahu sanksi apa yang akan diterima, karena itu erat kaitannya dengan yang di atas --Tuhan Yang Esa yakni Dewa Siwa yang diwakili Bhagawan Wismakarma
Inilah yang ditakutkan,'' Dikatakan, jumlah pengusung bade juga ada ketentuannya. 
Pengusung bade pada dasarnya empat orang (kelipatan empat) yang melambangkan catur sanak -- empat saudara yang diajak seseorang saat lahir. Jadi, menurut Turun bukan pada banyak jumlah pengusung, tetapi harus kelipatan empat agar sesuai dengan lambang catur sanak.

Selain bade, ada sarana penting lagi dalam prosesi ngaben yakni pepagan. Pepagan berasal dari kata baga yang berarti lamas. ''Bayi lahir kan dibungkus oleh lamas, mati pun mesti dibungkus oleh lamas yakni pepaga itu sendiri. 
Kita harus selalu kembali berprinsip yang sama. Lahir dan mati itu terkait erat.
***