Rasionalisme

Rasionalisme berasal kata rasio memiliki arti akal / fikiran, merupakan suatu paham yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan yang paling benar adalah berasal dari rasio (akal fikiran) seperti disebutkan macam-macam teori kebenaran yang dilihat dari sudut rasionalisme.

Menurut aliran filsafat Hindu Dharma, dalam rasio juga terdapat ide-ide dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas.

Dalam perkembangan sejarahnya, aliran rasionalisme disebutkan pada zaman dahulu dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637;
Ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu seratus persen pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. 
Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. 
Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. 
Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). 
Berkat sarjana Fisika Inggris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kecil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat
Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. 
***