Aja Were

Ida Mas

Ida Mas (disebut juga Ida Buk Jambe yang dikenal dengan Pandita Sakti) merupakan salah satu putera dari Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh atau Danghyang Niratha yang menurunkan Brahmana Mas di Bali.
Dengan memiliki sebuah tongkat sakti dimana pada zaman dahulu, Beliau juga dikisahkan memiliki sisya yang banyak dan membangun sektor pertanian untuk menghidupi sisya setianya itu.
Tersebutlah dalam Babad Bendesa Manik Mas yang diambil dari Lontar Usana Bali Saka 1297 dalam mencari kebenaran dalam ketidaktahuan diceritakan bahwa :
Diceritakan Ida Mas inilah nantinya dikenal nama pura yang cukup unik ini serta peninggalan yang dipegangnya sebagai warisan sang ayah. 
Ida Mas mendapatkan warisan gelung tersebut karena saat pembagian warisan sang ayah lupa memberinya bagian harta. 
Semua harta kekayaan yang dikuasai Dang Hyang Nirartha dibagikan pada anak-anaknya kecuali Ida Mas. Yang tersisa untuknya di pasraman Taman Pule (Mas) hanyalah suamba (pemujaan), gelungan (mahkota) joged dan sebuah tongkat. 
Ida Mas yang juga dikenal dengan nama Ida Buk Jambe dari Desa Mas akhirnya tinggal di Desa Munduk Galang. 
Layaknya seorang putra brahmana yang kesohor Ida Mas pun ma-dwijati dengan gelar Pandita Sakti Magelung, karena Ida Mas memiliki gelung sakti. Memiliki sisya banyak, Pandita Sakti Magelung membangun sektor pertanian untuk menghidupi sisya setianya itu.
Tapi kemudian utusan Kerajaan Mengwi yang bergelar I Gusti Ngurah Mambal bersama prajurit-prajuritnya tanpa sengaja merusak pertanian Pandita Sakti. 

Sambil beristirahat melepas lelah para prajurit ini pun melepaskan kuda-kudanya dan memakan tanaman Pandita Sakti. Tak hanya kuda para prajurit, kuda I Gusti Ngurah Mambal yang disebut Ki Penandang Kajar pun turut serta. 
Terang hal ini membuat Pandita Sakti marah dan ingin membunuh kuda I Gusti Ngurah Mambal. Merasa mau dibunuh lalu kuda tersebut lari ke arah selatan. Dengan tembakau yang selalu dikunyahnya, 
Pandita Sakti melemparkannya ke kuda kesayangan I Gusti Ngurah Mambal. Kejadian ini pun membuat desa itu dikenal dengan nama Sampara (dilempar). Tembakau yang dilemparkan tersebut bukan tembakau biasa. 
Lemparan itu membuat kaki kuda tersebut patah. Sehingga daerah itu pun di beri nama Silungan (Banjar Silungan). Meski kaki kuda itu telah patah, tapi dengan sekuat tenaga tetap berlari hingga ditemukan dalam keadaan mati di Timur Munduk Galang.
Merasa di perlakukan seperti itu I Gusti Ngurah Mambal berniat balas dendam dengan mengumpulkan kekuatan di Kerajaan Mengwi. 

Tampaknya kesaktian Pandita Sakti tak dapat diremehkan, rencana balas dendam tersebut telah diketahuinya. 
Lalu beliau bersemedi dengan sarana japa mantra dan bunga. Dilemparkannyalah bunga tersebut ke Barat Laut agar pasukan Mengwi takut, tempat jatuhnya bunga tersebut dikenal dengan nyeh keuningan. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Banjar Nyuh Kuning.
Bunga berikutnya dilemparkan ke hutan kresek (duri), kini tempat ini dikenal dengan nama Banjar Pengosekan. 
Bunga terakhir dilemparkan ke atas, lemparan kali ini menyebabkan dunia diselimuti awan tebal, hujan, angin kencang disertai suara makuwus (gemuruh) sehingga menyebabkan jurang di sebelah barat Munduk Galang banjir besar.
Setelah melemparkan ketiga bunga itu, Pandita Sakti kembali ke pesanggrahannya di Munduk Galang. Lalu melakukan samadi dengan sarana tongkat warisan ayahnya. 

Kini awan tebal kembali datang entah darimana hingga menyelimuti sekelilingnya hingga tak bisa dilihat tembus oleh mata. 
Tongkat itupun kemudian ditancapkan dan keluarlah air lima warna. Pandita Sakti pun berpesan pada para sisyanya agar kelak membangun pura di tempat itu dengan nama Pura Taman Lima. 
Karena tempat tersebut diselimuti awan tebal (limut) maka akhirnya pura itu pun dikenal dengan nama Pura Taman Limut.
***