Aja Were

Taijasa

Taijasa adalah Buddhi Rajah sebagai bagian dari citta yang dapat membantu kerja Vaikrta dan Bhutadi yang berfungsi untuk menumbuh kembangkan unsur-unsur jasmani.

Dalam penjelasan Tattwa Jnana dalam dimensi kehidupan manusia, dahulu disebutkan bahwa ketika Bhatara junjungan manusia, menyusupi alam semesta, menciptakan manusia dengan perantaraan Kriyasakti disebutkan bahwa : 
  • Ātma berada di Turiyapada, Jagrapada, dan Suptapada. 
    • Sebagai bagian dari Panca Pada
    • Perasaan ini dipengaruhi oleh keadaan atman; ketika melek, tertidur dan mimpi, tanpa keinginan, dalam keadaan seperti ini atman dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas.
  • Ātma mengalami sengsara diakibatkan karena berhubungan dengan Ahamkara ini yang menimbulkan adanya Panca Tan Matra, Panca Maha Bhuta, dan Manah
    • Manah direflesikan pada Ātma sehingga Ātma menjadi Panca Ātma. 
    • Orang yang ditempati oleh Bhatara Siva memiliki Ātma Visesa. Walaupun Ātma seseorang adalah Ātma Visesa, ia harus melaksanakan Tapa, brata, samadhi. 
Pada waktu Samadhi, Bhatara Siva akan menyatakan diri-Nya. Pada binatang tidak ada Ātma Visesa. Ia lebih banyak digerakan oleh Vàyu, Idep, dan Sabda. Sabda. Dan ketiga Tri Pramana itu akan meresapi seluruh tubuh manusia yang diberi kesadaran oleh Ātma dalam kadar yang berbeda-beda. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan itu adalah“subhasubhakarma”. 
  • Ātma yang berada di Jagrapada dan Turiyapada adalah Ātma yang luput dari “subhasubhakarma” karena kesuciannya, 
  • Sedangkan Ātma yang berada di Suptapada adalah Ātmà yang sengsara karena terus menerus lahir (#reinkarnasi) menjadi Dewata, manusia, dan binatang. Ia selalu diombang-ambingkan oleh pikiran berupa angan-angan. 
Adapun Turiyapada dan Turiyantapada itu sukar dijangkau oleh pikiran karena halusnya. Untuk dapat menentukan sesuatu itu dapat menggunakan Tripramana, yaitu Pratyaksa, Anumana, dan Āgamapramana. 
Turiyantapada hanya dapat dibayangkan dengan Āgamapramana. 
Ātma-atma itulah yang lahir sebagai manusia, tinggal dalam badan manusia, meresap dalam Sad Rasa, yang membangun tubuh manusia. 
Namun tubuh itu dasarnya dibangun dari Panca Maha Bhuta. Sebenarnya tubuh itu merupakan tiruan alam semesta, karena bagian-bagian tubuh itu bagaikan bagian-bagian besar. 

Demikian tubuh itu dapat dibandingkan dengan Sapta Loka (Bhuwana), Sapta Patala, Sapta Parvata, Sapta Arnava, Sapta Dvipa. 
Bila di alam besar terdapat banyak sungai, maka dalam tubuh manusia terdapat semacam sungai yang disebut nadì. Tenaga gerak tubuh itu disebut Vayu yang jumlahnya sepuluh disebut Dasavayu. 
Semuanya itu dihidupkan oleh Sang Hyang Ātma yang membagi-bagi dirinya yang menghidupi bagian-bagian tubuh itu. 
Akibat dari pembagian itu, maka Ātma membagi dirinya menjadi Pancatma.

Dunia dialami oleh Ātma melalui Dasendriya dan Manah. Kemudian Para Dewa dan Para Rsi juga menempati bagian-bagian tubuh, seperti Bhattara Brahma menempati hati, Bhatara Visnu menempati empedu, dan sebagainya, dan Triguna menjadi Gandharva, daitya, Bhuta, Paisaca, dan sebagainya yang menimbulkan sifat-sifat tertentu pada diri seseorang. 
  • Badan Sang Hyang Ātma adalah Pradhanatattva yang disebut Ambek. Ambek dan tubuh disebut Angarapradhana. 
  • Dari Ambeklah timbul suka, duka, baik, dan buruk. 
  • Ambeklah yang menikmati objek kenikmatan itu melalui Dasendriya. Maka harus ditarik dari objek kenikmatannya, kembalikan ke dalam Ambek, Ambek ke alam Pramana, Pramana ke Dharma Visesa, Dharmavisesa ke dalam Antavisesa, Antavisesa ke dalam Anantavisesa.
Sehingga cara mengembalikan semuanya itu dengan jalan Prayogasandhi yang dapat dilaksanakan dengan tuntunan Samyagjnana. Samyagjnana hanya akan diperoleh melalui Tapa, Yoga, dan Samadhi sebagai pemusatan atau pengumpulan pikiran yang ditujukan pada suatu objek tertentu.
***