Aja Were

Melayat

Melayat adalah momen sakral untuk dapat mengingatkan diri sendiri bahwa kematian itu pasti akan datang dan kita sedang dalam antrean menunggu saatnya tiba.

Bila kita sadar akan hal itu, apa dan sejauh mana persiapan yang sudah kita lakukan?
Adakah percepatan yang kita upayakan untuk menyelesaikan tugas-tugas dan tanggungjawab-tanggungjawab yang belum tuntas?

Belakangan berkembang istilah sadar kamera, yaitu sebutan bagi seseorang yang selalu sigap dalam mengantisipasi datangnya jepretan kamera dengan memberikan pose dan mimik wajah yang terbaik dan menarik.
Analogi ini rasanya pas dipakai untuk kesigapan dalam menghadapi kematian, karena kematian datangnya juga tidak tentu kapan.

Kita sebaiknya memiliki kemampuan untuk 'sadar jemputan'! Memiliki kesiapan dan kesigapan ketika panggilan 'boarding' untuk berpulang datang.
  • Pada saat dijemput, jangan sampai wajah kita sedang kucel karena masih terjerat banyak urusan ruwet nan kusut.
  • Hindari juga wajah kesakitan karena sedang menahan derita lahir maupun batin akibat ulah kita sendiri melakoni hidup dengan serampangan.
Wajah 'sadar jemputan' terbaik adalah wajah yang tenang dan tersenyum.
"Lakoni hidup dengan senyum. 
Punya atau pun tidak punya, tersenyumlah!"  

Demikian pun dalam hidup ini, 
Kapan pun maut menjemput, tidak ada masalah. Yang ada adalah wajah yang tenang dan tersenyum.

Demikian dikutip dari salah satu artikel Hindu Dharma di fb.

Jadi, melayat sesungguhnya adalah momen yang sakral untuk mengasah 'sadar jemputan'. 
  • Setiap melayat,  kita belajar dari sahabat yang telah mendahului kita, bagaimana beliau menghadapi kematian itu. 
  • Dan momen ini akan dapat mengingatkan diri kita sendiri untuk terus menerus melakoni hidup dengan tenang dan tersenyum.