Aja Were

Satya Laksana

Satya Laksana artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat.

Sikap ini merupakan salah satu bagian dari Panca Satya sebagai unsur kebenaran yang dapat memberikan keseimbangan hidup.

Dan dengan selalu berpedoman atas sikap satya laksana ini seseorang disebutkan akan mendapatkan pahala yang baik pula.

Diceritakan pada zaman dahulu, ada sebuah kisah seorang raja dan pelayannya yang setia dan bertanggung jawab. 

Tersebutlah seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata jujur kepada sang Raja: 

"Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Tuhan adalah sempurna, Ia tak pernah salah."

Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.
 
Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, "Kalau Tuhan itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!"

Pelayan tersebut menjawab, 
"Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Tuhan itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah."

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. 

Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: "Tuhan adalah baik dan sempurna adanya."
 
Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.
 
Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada pimpinan mereka. 

Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: 

"Temanku.. Tuhan sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku."

Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. "Kalau Tuhan itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?

Sang pelayan menjawab: "Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap."

Demikianlah diceritakan sebagaimana dikutip dalam salah satu artikel Hindu di fb dimana dalam konsep sederhananya, kebaikan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi itu seperti halnya tersebut dalam proses hukum karma;

Jika kebaikan yang ditanam maka kebaikan pula yang akan dinikmati. 

Begitu juga sebaliknya, jika kejahatan yang diperbuat maka malapetaka pula yang akan diterima.

***