Aja Were

Kayon

Kayon adalah gunungan yang mengingatkan kita pada tari Sivanataraja dalam menciptakan alam semesta. 
Pada bagian belakang ulon pada motif hias padmasana terdapat motif patra punggel yang dikomposisikan menyerupai bentuk “gunungan” (kayonan).
Dalam seni pewayangan, kata kayon juga berkonotasi dengan gunungan yang disebutkan melambangkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya yang mengalami tiga tingkatan yakni:
  1. Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan, yang orang mengartikan pohon Kalpataru, yang mempunyai makna pohon hidup.
  2. Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan ini menggambarkan hewan - hewan.
  3. Kehidupan manusia yang dulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon, sekarang hanya dalam prolog dalang saja.
Makara yang terdapat dalam pohon Kalpataru dalam gunungan tersebut berarti Brahma mula, yang bermakna bahwa benih hidup dari Brahma. 
Lukisan bunga teratai yang terdapat pada umpak (pondasi tiang) gapura, mempunyai arti wadah (tempat) kehidupan dari Sang Hyang Wisnu, yakni tempat pertumbuhan hidup.
Berkumpulnya Brahma mula dengan Padma mula kemudian menjadi satu dengan empat unsur, yaitu :
  • Sarinya api yang dilukiskan sebagai halilintar;
  • Sarinya bumi yang dilukiskan dengan tanah di bawah gapura;
  • Dan sarinya air yang digambarkan dengan atap gapura yang menggambarkan air berombak.
Gunungan atau kayon ini juga merupakan lambang alam bagi wayang, menurut kepercayaan Hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang yaitu :
Menggambarkan proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta sebagai unsur elemen atau zat dasar dari alam beserta isinya.
Demikian disebutkan dalam filosofi gunungan dalam wayang dalam blognya wiatnata yang biasanya terlihat pada setiap pergelaran wayang baik wayang golek maupun wayang kulit selalu ditampilkan gunungan. Disebut gunungan karena bentuknya seperti gunung yang berisi mitos sangkan paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini.
***
Karena pada zaman dahulu sebuah gunung oleh umat Hindu khususnya di Bali diyakini sebagai istana para dewata atau para leluhur yang menjadi asal muasal kita sebagai manusia yang sebagaimana ditambahkan, dengan sarana pertunjukkan wayang kulit  seperti sapuh leger yang disakralkan umat Hindu di Bali disebutkan bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri.
***