Sesuratan

Sesuratan adalah sastra tulis yang juga dikenal dengan nama “kesusastran sujana” yang merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai teks-teks yang tertuang dalam naskah-naskah tulisan tangan (manuskrips) maupun cetakan sebagaimana disebutkan oleh Krishna Duta dalam klasifikasi sastra Bali baik berupa lontar, tembaga, maupun kertas. 
Sastra tulis ini merupakan perkembangan dari sastra lisan sebelumnya ketika masyarakat Bali telah mengenal aksara (huruf).
Seperti halnya disebutkan simbol rajahan surat/tulis kajang sebagai simbol rohani yang secara spesifik sesuai dengan jenis kajang dan ketentuan surat kajang dari masing - masing pura kawitan yang berfungsi untuk memuja Atma Siddha Dewata, manunggalnya atman leluhur dengan Brahman yang juga disebut moksa sebagai ketentraman rohani.

Aksara yang bersifat kekal dan abadi baik dalam bentuk huruf, angka maupun simbol-simbol tersebut, dimana di Bali sampai saat ini aksara tersebut tetap digunakan pada lontar - lontar untuk mendokumentasikan dan mengabadikan suatu peristiwa.

Karena sebuah peristiwa dalam sejarah peradaban zaman dimasa lalu juga disebutkan dapat membantu kita untuk mengembangkan kemampuan memahami peristiwa, bersikap kritis, dan menyampaikan opini dengan benar.

***