Aja Were

Hindu Majapahit

Hindu Majapahit adalah sebuah keyakinan yang dahulu berkembang di sebuah negeri yang dipimpin oleh raja-rajanya yang bijaksana dengan masyarakatnya memegang teguh adat istiadat, nilai dan seni budaya yang luhur.


Hindu Majapahit yang berawal sekitar abad ke 10, kala Kerajaan Medang Kamulan di Jawa memperluas pengaruhnya sampai ke Bali.
Pengaruh tersebut makin berkembang pada zaman Kerajaan Singosari dan semakin pesat di zaman Kerajaan Majapahit. 
Demikian disebutkan Hindu di Bali, antara agama dan budaya yang saling melekat sehingga menjadi indah, unik, dan menarik.
Dimana dikatakan beberapa unsur tradisi besar yang bercirikan kebudayaan Hindu Majapahit di Bali yang masih diwarisi antara lain Upacara Pembakaran Jenazah (ngaben), sistem kalender hindu-jawa, pertunjukan wayang kulit, tarian topeng, arsitektur dan kesenian bermotif Hindu-Budha, tokoh pedanda, dan lain sebagainya.
Dan pedanda sebagai keturunan Dang Hyang Nirartha pada masa akhir Kerajaan Majapahit dalam salah satu pesannya disebutkan sebagai berikut :
Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Terjemahan :
Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, "jangan durhaka pada leluhur".
Kepercayaan mengajarkan kita akan hadirnya ajaran Leluhur dan Karuhun, Hindu mengajarkan kita mencintai dan menjaga alam semesta ini.

Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan :
  • Pura Besakih disebutkan merupakan lambang satu kesatuan antara Hindu Bali dan Hindu Majapahit. Dimana keberadaan Pura Catur Lawa ini juga berkaitan erat dengan kedatangan Panca Tirta yang berasal dari Jawa.
  • Dalam bahasa Jawa Kuno, diantaranya Bhuwanakosa, dipandang sebagai Lontar tertua dan sumber lontar-lontar tattwa yang bercorak Åšiwaistik, dan Lontar ini digunakan salah satu sumber dalam Siwa Tattwa Di Bali.
***