Selanturnyane

Malam Sastra

Malam Sastra saat Hari Raya Saraswati dilakukan dengan tradisi jagra yaitu dengan membaca kitab - kitab suci seperti weda dan mendharmatulakan (mendiskusikan) isinya yang bertujuan untuk menciptakan suasana nyaman,
Terciptanya keadaan yang kondusif perlu diarahkan kepada pembinaan mental yang sekaligus membangun mental umat beragama yang stabil dan kokoh seperti makna yang terkandung dalam pengertian sauca sebagai bagian dari Dasa Dharma untuk kemurnian rohani dan jasmani dalam menjalankan kebenaran dan hidup yang bijaksana.
Dan apabila agama telah menjadi bagian yang integral dalam pribadi setiap umat Hindu, maka agama akan kelihatan dalam segala tingkah laku umat Hindu baik secara individu maupun secara bersama-sama. 
Tingkah laku yang selalu mencerminkan nilai-nilai luhur agama akan dapat mewujudkan tujuan hidup mencapai kebahagiaan hidup jasmani dan rohani.
Memahami agama dimulai dengan adanya keyakinan. Dengan adanya keyakinan tentang adanya Ida Sang Hyang Widhi maka kita dapat membuktikan kebenaran agama. Keyakinan ini diperoleh dengan cara mempelajari ajaran agama, menyelami isinya dan diamalkan dalam bertindak, berbicara, ataupun berpikir.
Demikian ditambahkan dalam Sad Dharma sebagai metode pembinaan umat yang menjadi kewajiban umat Hindu.

Dalam hubungannya dengan pembinaan umat menuju kepada kemantapan pelaksanaan ajaran agama disamping seorang sulinggih / pandita memimpin menyelesaikan upacara yadnya, juga disebutkan patut memberikan Upadesa untuk dapat memantapkan pengertian dan pengalaman ajaran Agama Hindu kepada seluruh umatnya seperti halnya :
  • Upadesa yang tertuang dalam Widhi Tattwa yang menjelaskan kemahakuasaan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
  • Ataupun Sastra Yadnya dalam melaksanakan satwika yajña
***